Senin, 28 Agustus 2017

Sang Panglima dan Panggungnya

Panggung ini. Panggung yang megah untuk ditatapi. Panggung yang indah untuk dipandangi. Panggung yang sempurna untuk dinikmati. Sesempurna Sang Panglima yang selalu gagah perkasa menyelamatkan rakyat jelata. Setiap minggu, di jam yang sama, di tempat ini, ia selalu bertekad untuk menyelamatkan rakyat yang mempercayainya, baik dari Sang Raja, Sang Penyihir maupun Sang Penjajah. 

Baris ke-4 adalah tempat favoritku. Tak ada makna filosofis dibaliknya. Aku hanya suka menatapnya dari baris ini. Tidak terlalu menengadah maupun bersusah payah melompat-lompat. Kalau ingin dibuat filosofis, baris ke-4 melambangkan sudah 4 tahun aku menikmati panggung ini. Mengagumi Sang Panglima. 

Itu dia mulai menyelamatkan rakyatnya. Ia selalu punya cara untuk itu. Meskipun terlambat, namun bukan kah pahlawan selalu datang terlambat? Tapi, kapan giliranku? Kapan ia menyelamatkanku dari ketidakadilan? Ia telah terlambat bertahun-tahun sejak bedebah-bedebah itu merenggut harga diriku. Ah, namun siapa diriku? Aku bahkan lebih rendah daripada rakyat jelata. Aku hanya seorang narapidana yang menunggu kematian.

Jumat, 28 April 2017

Surat Cinta untuk Kalian, Para Pejuang

Hai teman-teman mantan tim KKN ku, 
Aku merasa aku harus menulis surat ini. maaf aku terkesan sangat lebay dan drama sampai harus menulis ini. karena masih ada yang belum tersampaikan di perpisahan tadi.
Aku tahu aku baru sebentar mengenal kalian, baru beberapa kali bertemu kalian. Tapi, awal mula kita bertemu, aku sudah jatuh cinta sama kalian. Aku merasa nyaman. Aku merasa 'pulang'. 
Aku tahu aku belum begitu hadir di tim ini, karena kecanggunganku untuk berinteraksi dengan banyak orang sekaligus. Tapi, aku selalu suka mendengarkan kalian, candaan maupun keluh kesah kalian.

The moment i met you guys, i knew i just found a home.

Kalian bagai rumah untukku. Rumah yang aku sulit untuk temukan akhir-akhir ini. Dan ketika rumah itu harus diambil, aku merasa kehilangan. setidaknya untuk sekarang.

Untuk Tengdu, Mb. Er, Mb. Maya, Aswin, Bang Zed, Titis. Maaf kalian harus melihat kelemahanku kemarin hari. Aku sebenarnya sangat benci untuk melakukan hal tersebut. Tapi hari itu dan momen itu, aku sedang lelah-lelahnya dengan kehidupan ditambah kemarahan itu. Aku bingung gimana harus bersikap, jadi aku memilih jalan pintas untuk menangis. Dan terima kasih sudah menemaniku saat itu.

Untuk teman-teman cluster soshum kece ku, 
Dyas: terima kasih untuk bimbingannya dan rumpinya selama ini. Terima kasih juga di tengah-tengah rapat bersedia membantuku menyelesaikan sebuah paper laknat. 
Sari: terima kasih sudah menjadi teman kkn pertama yang me-follow instagramku. Terima kasih sudah jadi pawang kucing di tengah-tengah rapat. Semoga kamu segera bisa mengadopsi kucing disini.
Niken: terima kasih buat pertemanannya. Terima kasih untuk berbagi tatapan bingung ketika ditanyain apa perkembangan cluster soshum kece waktu Dyas ga ada. 
Bang Zed: terima kasih buat cerita-ceritanya. Terima kasih juga buat air minumnya kemarin. Semoga kehipsteranmu membawamu pada jodoh yang berasal dari mana saja. Semoga tahun ini, Bang Zed bisa diberikan kemauan untuk menyelesaikan tulisan 30++ halaman itu. 
Aku akan rindu cerita-cerita horror kampus ugm kalian. Jangan lupa untuk ajak aku mendaki bersama. 

Untuk semuanya, aku mungkin kurang mengenal satu-per satu dari kalian. Tapi, aku merasa aku udah sayang kalian. Kalian sudah berada di tim yang tepat untuk berproses bersama. Dijaga ya keharmonisannya!

Ketika kalian punya keraguan di diri kalian, ingatlah bahwa tidak perlu IP 4 atau lulus cepat untuk menjadi yang terbaik. Cukup berpikiran terbuka dan memiliki kepedulian untuk jadi yang terbaik. Just like you guys. 

I love you guys, and you're part of the best people I've found. 
Good luck for your KKN, I believe that they are lucky to have you guys in that place. 

Cheers!

Selasa, 25 April 2017

Proteksi atau Diskriminasi? Hanya luapan kegelisahan.

Ah, sudah lama saya tidak menulis mengenai kegelisahan saya selama ini. Hari ini, semua kegelisahan saya sudah terbukti.

Momen KKN merupakan salah satu momen paling berharga bagi mahasiswa. Saat itu, kita sebagai mahasiswa dituntut untuk berproses dan beradaptasi dengan lingkungan. Namun, sayangnya momen tersebut tidak begitu ramah bagi orang-orang seperti saya (baca: orang yang dianggap memiliki 'kekurangan'). 

Pada umumnya, mahasiswa membentuk tim KKN yang beranggotakan strategis, begitu pun saya. Setelah berkali-kali ditolak, akhirnya saya menemukan sebuah tim yang sangat inklusif menurut saya. Terdiri dari berbagai macam sifat dan generasi membuat saya mengagumi kepribadian mereka satu per satu. Kebahagiaan saya untuk bergabung dengan mereka terancam karena alasan 'kesehatan' saya. Bagi yang belum tahu apa yang dimaksudkan dengan 'kesehatan' saya, begini ceritanya:

4 tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor dan membuat saya mengalami 'brachial plexus injury' dimana terdapat goresan atau bahkan putus saraf di pundak dekat leher bagian kanan saya. Hal itu membuat saya kehilangan sebagian besar kemampuan motorik maupun sensorik. Butuh waktu sekitar 6 bulan bagi saya untuk kembali beraktivitas dengan normal dan mandiri seperti memakai baju, menulis maupun hal-hal yang selayaknya dilakukan perorangan. 

Kembali ke permasalahan KKN. Dengan pertimbangan kondisi fisik saya, saya terancam untuk berada dipindahkan ke lokasi yang jauh lebih dekat. Saya sebenarnya tidak keberatan untuk berada di lokasi manapun, toh judulnya 'mengabdi'. Yang membuat saya sedih adalah bagaimana kapabilitas saya harus diragukan atau bahkan terhalang dengan kondisi fisik saya. Katanya, SOP yang mengharuskan saya untuk 'ditolak' seperti itu. Katanya, hasil kesehatan saya mengharuskan saya untuk seperti itu (meskipun saya dengar sebenarnya saya baik-baik saja dan dapat ditempatkan dimana saja). Yang paling membuat saya nyesek adalah kata-kata 'saya kan ga bisa me-review case-by-case karena kondisi kesehatan yang berbintang ada ratusan (saya lupa berapa). akan repot.'. Saya tidak bisa menahan tangis saya ketika saya mendengar itu. Kenapa? Karena saya merasa itu sebuah upaya men-generalisir suatu kondisi seseorang. Dan kasus saya, bukan lah kasus yang general. Kata 'repot' membuat saya merasa menjadi beban.

Saya paham maksud beliau dan orang-orang yang memiliki SOP adalah baik. Tidak ingin ada permasalahan kesehatan yang akan membahayakan individu tersebut atau pun tim. Namun, apa yang saya punya bukan lah masalah 'kesehatan' pada umumnya. Saya tidak punya kondisi kesehatan yang dapat membahayakan nyawa saya. Saya telah mempunyai ini selama 4 tahun. Saya lebih suka untuk berpikir apa yang saya punya bukanlah kekurangan, melainkan perbedaan. Dengan keterbatasan saya, saya masih bisa melakukan apa yang orang dengan fisik pada umumnya lakukan. Saya pergi ke gym, jogging, berenang (saya cukup ahli berenang), menyelam, main basket (masih harus beradaptasi), bahkan saya sedang berusaha untuk melakukan planking selama 1 menit (doakan saya!). Pada tahun awal saya memiliki ini, saya berhasil untuk melukiskan sebuah wanita di kanvas. Saya sering berpergian, membawa bawaan cabin saya yang mungkin mencapai 5 kg (atau lebih) dan menolak dibawakan oleh mas-mas ganteng bermata biru di Melbourne (disclaimer: mas-mas adalah pria berumur 30-45). Saya sudah terbiasa tersesat maupun berlari mengejar pesawat di bandara. Saya pergi ke konser dan harus bertingkah selayaknya pemain UFC karena kerasnya kontak tubuh dengan orang lain. Pada dasarnya, saya memiliki kemampuan seperti kalian yang memiliki fisik normal. Saya hanya punya cara yang berbeda untuk melakukannya. 

Saya sedih karena ketika saya mendapatkan kenyataan ini, saya berpikir bahwa masih banyak orang di luar sana yang belum cukup paham tentang ini. Saya baru memiliki ini selama 4 tahun tapi bagaimana dengan orang yang difabel sejak lahir? Apakah mereka selalu mendapatkan bentuk 'proteksi' yang berbeda tipis dengan diskriminasi? Bagaimana mereka harus menerima kenyataan untuk menjadi minoritas yang terkadang diabaikan kapabilitasnya? Saya sangat mengerti bahwa langkah-langkah yang diberikan dimaksudkan sebagai bentuk proteksi. Tetapi saya bisa jamin, tidak semua individu yang memiliki perbedaan ini nyaman dengan keistimewaan yang diberikan. Jujur, ketika awal saya diberikan ini, saya merasa nyaman karena saya diperhatikan dan diberikan keistimewaan tertentu. Lalu, saya mulai merasa gusar setelah setahun, rindu untuk diperlakukan seperti orang lain yang berfisik 'normal' dan mulai berpikir bagaimana mereka sebenarnya melihat saya. Apakah mereka melihat saya dengan tatapan mengasihani? 

Kegelisahan saya selama ini sudah terbukti pada hari ini. Saya dinilai berdasarkan apa yang terlihat maupun hasil tes kesehatan yang bahkan hanya berlangsung 5 menit atau kurang dan bukan dari apa yang bisa saya lakukan. Saya berpikir bahwa saya akan selalu diragukan atas apa yang saya punya ini, perbedaan ini. Mungkin memang saya terkesan egois karena hanya melihat dari sudut pandang sendiri, tapi saya percaya bahwa setiap individu berhak memiliki kesempatan untuk berkembang lebih besar dari batas-batas yang diberikan oleh masyarakat pada umumnya.

Dan untuk tim (atau mantan) KKN saya, terima kasih untuk penerimaannya selama ini. Setelah saya ditolak lebih dari 5 kali (mungkin karena tangan saya atau bukan), kalian menerima saya beserta apa yang dikatakan orang-orang sebagai kekurangan dengan tangan terbuka. Jangan menjadikan apa yang terjadi sebagai beban moral. Saya malah merasa berterima kasih di tengah-tengah keraguan orang-orang akan perbedaan saya, ada orang-orang seperti kalian yang mau percaya pada saya. Terima kasih karena telah membuat saya merasakan penerimaan di tengah-tengah penolakan. Maaf saya sudah merepotkan kalian dengan birokrasi yang sangat berbelit-belit. Maaf juga saya belum dapat berkontribusi dengan maksimal dan sesuai harapan. Saya baru bertemu dengan masing-masing dari kalian sebentar, tapi saya tahu kalian orang-orang baik. Orang-orang spesial. Semoga apapun yang terjadi nantinya, menjadi sesuatu yang berharga untuk dikenang.

Jumat, 09 Desember 2016

Review Ala Ala: Headshot (Spoiler)

"Seorang pria terbangun tanpa mengetahui apapun yang mengejar nyawanya"
Setidaknya, itu satu kalimat penggalan mengenai Headshot yang disutradarai oleh MoBros. Ketika trailer Headshot keluar, banyak yang menyamakannya dengan The Raid. Saran saya? Jangan sama kan, wong sutradara dan alur ceritanya beda!

Tertanggal 9 Desember 2016 ini, saya menonton Headshot tanpa memiliki ekspektasi apapun. Ketika saya memikirkan film action Indonesia, saya selalu membandingkan dengan The Raid dan lama-kelamaan saya mulai lelah dan sadar bahwa perbandingan tersebut sangat tidak adil bagi film-film lainnya. Jadi, saya mulai dengan ekspektasi nol dan tanpa membaca sinopsis film sama sekali. 

Di dalam Headshot saya mempelajari karakter Ishmael (Iko Uwais) yang mengalami amnesia karena suatu tembakan di kepala. Ia dirawat oleh seorang calon dokter, Ailin (Chelsea Islan). Di tengah usahanya untuk mendapatkan ingatannya kembali, Ishmael dikejar-kejar masa lalunya yang dipimpin oleh sosok misterius, mr. Lee (Sunny Pang). Kehidupan Ishmael pun semakin kompleks dengan kehadiran Tejo, Tano, Besi dan Rika (David Hendrawan, Zack Lee, Very Tri Yulisman, Julie Estelle). 

Disini, saya akan kembali mengutarakan pendapat dengan segala kesotoyan saya yang mungkin bagi beberapa pihak tidak dapat ditoleransi.

1. Plot
Banyak yang menyamakan film ini dengan Bourne. Menurut saya, mereka tidak salah karena background ceritanya sebenarnya sama yakni seorang pria yang terlihat 'lost' dengan semua yang ada di sekitarnya. Tetapi, jujur saya tidak memiliki masalah dengan kemiripan cerita ini karena toh konflik yang disajikan berbeda dan tidak sama persis dengan Bourne. Plot yang ditawarkan membuat perbandingannya dengan The Raid tidak terlalu relevan. Headshot hadir dengan kehilangan dari seorang pria yang dramatis dan dilematis. Kehilangan yang berujung pada penemuan ini lah yang menjadi titik dimana unsur drama yang tidak menye tetapi juga tidak terlalu serius untuk diikuti. Banyak yang takut ini akan menjadi titik lemah Headshot. Dengan segala kesotoy-an saya, saya akan bilang tidak. Saya pikir ini merupakan unsur beda yang tidak dimiliki film action Indonesia pada umumnya (tentunya film kebanggaan kita, Azrax tidak termasuk karena Azrax adalah kunci). Anyway, permasalahannya adalah ada beberapa cast yang masih sangat kaku dalam penyampaian cerita. Ada yang menyebut Iko cukup kaku. Saya sendiri sebenarnya tidak merasa masalah dengan akting Iko, mungkin karena saya sudah 'terbiasa' dengan aktingnya di MerantauFilms. Atau mungkin karena memang akting Iko di Headshot baik-baik saja. Saya bukan pengamat akting orang dan karena saya juga tidak melihat satu-satu aktor di Headshot mana yang bagus mana yang tidak. Tetapi, saya cukup melihat ada kekakuan Very Tri Yulisman ketika berbicara dengan Iko. Kekakuan ini sebenarnya cukup mengganggu karena menurut saya dialog diantara keduanya bisa lebih menyentuh penonton. Tetapi kembali lagi, saya hanya seorang penonton yang sotoy tanpa ilmu khusus, jadi tontonlah sendiri supaya lebih yakin.

2. Scenes
Jujur, scene pembuka Headshot adalah salah satu scene yang paling saya suka di film action. Di awal film, MoBros sudah 'melegitimasi' kekuatan mr. Lee. Saya sempat melihat beberapa video reaksi terhadap trailer yang menontonkan adegan tembakan antara narapidana dan penjaga penjara dalam ruang sempit di awal film. Banyak yang sangat menyukai scene itu dan saya pribadi suka bagaimana scene itu memberi kekuatan pada mr. Lee. Tetapi, bagi anak sotoy seperti saya, kemampuan para penjaga penjara atau polisi itu sangat mengganggu. Tetapi di luar itu, salut dengan bagaimana scene itu dibuat. Secara keseluruhan, saya merasa nyaman dengan koreografi adegan fighting yang ada, meskipun sering mengingatkan saya pada The Raid (maaf, can't help it). Saya juga suka bagaimana MoBros menggambarkan scenes dengan dukungan setting yang tersedia. Lokasi Headshot ini tidak dijelaskan dimana, tapi MoBros berusaha memberikan sentuhan otentik di setiap scenesnya (misalnya di kantor polisi, pantai). Selain itu, saya sangat menghargai adanya unsur-unsur komedi baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Itu merupakan salah satu keunggulan lain dari film ini. 

Saya memiliki beberapa scenes favorit, (((Peringatan))) ini akan jadi sangat spoiler. Saya suka unsur slowmotion yang ditambahkan pada adegan Ishmael v. Garindra Bimo (maaf saya lupa namanya). Biarkan saya mendeskripsikan scene ini ke dalam bahasa yang sedikit politis. Saya suka unsur slow motion karena dari situ, saya dapat merasakan power yang dimiliki Ishmael kembali. Analoginya ketika seorang pemimpin dikudeta, kemudian ia mendapat tekanan dari AS untuk mengembalikan powernya, dan dengan cara kekerasanlah dia bisa. Ga nyambung? Ya maaf. Moving on, scene favorit saya selanjutnya adalah Ishmael v. Tejo Tano di kantor polisi. Saya cinta banget sama scene bayangan Tejo Tano. Sangat iconic menurut saya. Bayangan keduanya sangat meneror bagi saya. Meski banyak yang tertawa, menurut saya bayangan Tejo Tano dapat dikenang bagi orang yang menontonnya. Scene favorit saya yang terakhir adalah Ishmael v. Besi. Sejak Besi keluar di scene awal-pertengahan, saya tidak dapat berhenti memikirkan siapa sebenarnya dia di dunia nyata karena mukanya yang sangat familiar. Awalnya saya berpikir Tanta Ginting atau Volland, tapi 'ah bukan, kejauhan', pikir saya. Ingatan saya kembali ketika Ishmael dan Besi mulai adegan fightingnya di hutan. Ada satu momen dimana saya berpikir 'HOLY MOLLY MY BASEBALL BAT MAN'. Saya tidak paham mengapa saya sangat merasa ter-engage dengan scene ini. Sayangnya, seperti yang telah saya bilang sebelumnya, Very memainkan Besi dengan kaku. Selain itu, hubungan Ishmael dan Besi tidak terlalu ditonjolkan, entah karena disengaja atau tidak. Menurut radar kesotoyan saya, cerita mereka berdua akan jadi salah satu cerita yang menyentuh dan adegan di akhir hidup Besi bisa lebih bermakna. Jangan salah sangka, saya tidak meminta untuk menjelaskan semuanya, hanya interaksi keduanya yang dianggap sangat dekat. Scene terakhir yang akan saya bahas bukan jadi yang favorit tetapi saya perlu untuk menganggapinya: Ishmael v. Rika. Saya pikir scene ini akan semakin memberi unsur romantisme dalam film ini. Sayangnya, keduanya seperti tidak memiliki koneksi 'bersama'.

Ada satu hal yang cukup mengganggu dalam antar scenes yaitu kontinuitas. Dalam setiap film, secara naluriah saya cukup memperhatikan kontinuitas. Sayangnya, Headshot tampak kurang memperhatikan hal ini. Saya tidak terlalu hapal adegan mana yang kontinuitasnya terganggu. Tetapi, ada satu adegan di bus antara Ailin dan anak kecil yang tiba-tiba telah dipeluknya. Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan ini, tapi kontinuitasnya semakin terganggu di scenes setelahnya.

3. Karakter
Karakter di Headshot benar-benar ditonjolkan di setiap scene nya. mr. Lee sangat ikonik. Ia adalah kombinasi antara kasih sayang dan ambisi yang seharusnya tidak disatukan. Dari keempat anak buat mr. Lee, saya sangat menyukai Tejo Tano. Keduanya dianggap tidak realistis. Tetapi tanpa mereka, Headshot menjadi kehilangan dua komikal musuhnya. Karakter sangat diperhitungkan mulai dari yang minor sampai yang major. Karakter nelayan penyelamat Ishmael (lagi-lagi saya lupa namanya), dapat merangkul seluruh penonton untuk menunjukkan bahwa 'oh film ini ada manusia pada umumnya ya, bukan cuma manusia super macam Ishmael'. Saya juga suka dengan munculnya cameo-cameo dalam karakterisasi Headshot. Seluruhnya menurut saya sangat cocok dengan Headshot. Karakterisasi secara keseluruhan sebenarnya cukup janggal dengan tata bahasa 'elu gue'. Tapi kembali lagi, setting yang ditawarkan oleh MoBros tidak terlalu mendeklarasikan suatu kultur tententu.
Anyway, itu lah sekilas kesotoy-an saya mengenai Headshot. Overall, saya cukup suka dengan bagaimana film ini bercerita. Tetapi, satu hal yang saya mengerti dari Headshot, film ini layak untuk ditonton di bioskop dan bukan waste of money. Mohon maaf apabila kesotoy-an saya ini mengganggu banyak pihak.

Minggu, 24 April 2016

Review ala ala: JUARA ( spoiler)

Seperti yang telah terpapar dipostingan sebelum-sebelumnya, saya sering nonton bioskop terutama film Indonesia. Hari ini, saat saya  menulis ini, saya sedang berada di Lippo Plaza, menumpang listrik dan internet gratis, setelah  menonton bareng film Juara.

Sebelumnya, izinkan lah saya Riya'. Saya mengikuti nonton bareng yang juga sekaligus meet n greet dengan Bisma dan Cio. Dunia pernontonan film saya memang sering dimudahkan. Saya punya teman yang kenal dengan Bisma (mau disebut ga namanya, Mas? nanti saya edit wahaha), lalu saya mendapatkan tiket dan disamperin Bisma, kenalan bentar. But i don't think he still remembers me anyway haha. Tapi, perkenalan itu membuat saya (mungkin) menjadi Bismaniac. Karena, subhanallah teman-teman, dia lebih ganteng dari yang di tipi-tipi.. tapi, saya ingin mengakui satu penyesalan, saya tidak ngobrol dan foto bareng,,

 marilah kembali ke topik

Tapi, sebelumnya, pengetahuan saya mengenai film masih sangat cetek. Jadi, bacalah ini hanya sebagai gambaran umum.

Juara: Film Paket Komplit untuk Remaja
Dari judul awal, mengapa paket komplit? karena terdapat unsur drama, action dan komedi dalam film tersebut yang porsinya (menurut saya) sesuai dengan kalangan remaja. Saya akan membahas satu-satu:
a. drama
Unsur drama pasti ada di setiap film. Dalam hal ini, saya akan lebih membahas mengenai konflik yang tersedia. Sebenarnya, konflik di dalam film ini sangat sederhana dan dapat ditebak dari awal. Tapi somehow, konflik ini (mungkin dengan dukungan-dukungan unsur yang lain) bisa membuat kita tetap menonton dari awal sampai akhir meskipun kita bisa menebak akhirnya. Selain itu, pemain memerankan sangat cocok seperti Cut Mini dan Tora Sudiro. *sekilas curhat, saya sangat bahagia saat melihat Tora berperan serius, karena saya salah satu fansnya yang (1) rindu akan kehadirannya (2) ingin melihat kegantengan Tora serius yang sudah sejak lama hilang.* Unsur drama ini sangat menyentuh, entah saya yang memang baperan atau memang benar-benar menyentuh. Entah kenapa, saya selalu berkaca-kaca ketika melihat Tora dengan tatapan mautnya di frame. Ada satu scene yang tingkat keberkaca-kacaan mata saya sudah mencapai ujung, tapi saya masih kuat menahan cobaan ini. Disamping itu, dalam unsur ini, menurut saya revealing dari status Tora terlalu cepat. Saya pikir status Tora akan jadi plot twist yang signifikan dari film tersebut. Ternyata, statusnya hanya sebagai pendukung dari unsur action.

b. Action
Seperti yang terpampang di trailer, film ini mengandung action. Dengan kehadiran Cecep A. Rahman saja, saya pikir adegan-adegan action di film ini tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, semakin ditegaskan bahwa ini film action melalui pembukaan di medan pertarungan dan dieksekusi dengan baik. Saya jujur sangat suka dengan segala action yang terkandung di dalamnya. Peringatan saja, jangan samakan porsi action di film ini dengan The Raid ya, karena pasarnya sangat beda. Tapi eksekusi fightingnya sangat baik dan terlihat profesional. Bisma pun dapat menunjukan signature dari fightingnya dengan gerakan-gerakan yang biasa digunakan di breakdance (sotoy ah, Ta). Akan tetapi, menurut saya, scene fighting terakhir antara Bisma dan Cecep dapat dimaksimalkan lagi dengan menambah durasi. Menurut analisis kesotoyan saya, adegan fighting tersebut terlalu sebentar untuk dijadikan titik puncak film tersebut. 

c. Komedi
Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa akting Bisma bisa sangat natural terlebih di scene yang berbau komedi. Saya sangat terhibur dengan scene komedi yang disediakan, entah siapa yang menuliskan jokes-jokesnya. Saya melihat bahwa kehadiran Mo Sidik di film ini sangat membantu dalam unsur komedi ini. Dari awal juga, unsur komedi sudah ditekankan dan menurut saya well-played by Bisma, Cut Mini dan Mo Sidik. 

Karakter dan Pemain
Selain ketiga unsur tersebut, saya ingin membahas tentang karakter dan pemain. 

Dimulai dari karakter yang diperankan oleh Bisma. Selain pemainnya, saya pikir karakter seorang Bisma di film tersebut memang karakter yang akan dicintai oleh remaja. Dicatat ya, tidak hanya disukai tapi dicintai. Seperti pacar impian seluruh remaja wanita. Karakternya sangat unik, sehingga mudah diingat setiap aksi-aksinya.

Selanjutnya, karakter yang diperankan oleh Cut Mini. Somehow, sejak Arisan!, saya sangat suka dengan Cut Mini. Dalam film ini, meskipun di awal ia sangat cocok dengan komedi, tetapi ia dapat berperan secara maksimal dalam unsur dramanya. Ya terbukti lah, skill seorang Cut Mini yang memang luar biasa.

Seperti yang saya bilang, kehadiran Mo Sidik memang benar-benar mengangkat unsur komedi di dalam film ini. Menurut saya, sebenarnya karakter Mo Sidik dapat dengan mudah dihilangkan karena tidak memiliki kepentingan langsung dengan tokoh utama. Tapi apa yang terjadi kalau karakter tersebut dihilangkan? Tentu unsur komedi yang terkandung akan berkurang. Ini menurut kesotoyan saya ya.

Saya salah satu fans berat Tora Sudiro dari kecil, jadi pendapat ini akan sangat subjektif (padahal review ini juga sepertinya sangat subjektif). Tetapi, sungguh, Tora memang salah satu aktor yang menakjubkan (setidaknya di mata saya). Dia bisa menutupi perilakunya sehari-hari dengan karakter serius di film ini. Saya jatuh cinta.

Tokoh antagonis yang pertama terlihat diperankan oleh Ciccio Manassero (kalau typo, maafkan ya). Sebelum film ini, saya tidak pernah memperhatikan Ciccio, hanya sekilas saja di TV. Saya memang tidak tahu cara kemampuan akting seseorang dalam film, tapi saya cukup melihat Ciccio sesuai dengan karakter yang dimainkan

Dalam film remaja, biasanya ada konflik untuk merebutkan wanita, dan Dina Anjani lah wanita tersebut. Saya belum pernah mendengar namanya sebelumnya, tapi sepertinya pernah melihat wajahnya disuatu situasi. Anyway, saya sebenarnya bingung untuk memberi gambaran tentang dia. Tetapi, ketika saya menonton film ini, karakternya telah cukup baik dimainkan. 

Tokoh antagonis yang perannya cukup signifikan diperankan oleh Cecep A. Rahman. Karakternya sangat badass menurut saya. Jujur, saya suka akting Cecep dengan segala ke-badass-annya. 

Tokoh yang saya sangat suka adalah yang diperankan oleh Ronny P. Tjandra. Lagi-lagi, saya sangat subjektif karena saya sangat suka beliau dari kemunculannya di Omnibus 3SUM. Karakternya terlihat simple, tetapi the way he acts makes you adore him. Oh iya, kalau ada yang kenal, salam ya dari saya, haha.

Overall, saya sangat merekomendasi kalian menonton film ini. Film ini sangat menghibur dan salah satu film yang memang pantas ditonton oleh remaja. Saya merasa film-film remaja Indonesia sangat monoton akhir-akhir ini, tapi Juara menawarkan sesuatu yang baru pada remaja Indonesia.

Rabu, 13 April 2016

Thank You Notes for The Temper Trap

Music is one of the biggest influence in my life beside film and cooking (food). Even, music is the first escaping place for me. One of the most influential music for me is The Temper Trap.

Why The Temper Trap?
The first meeting between me and TTT was on a car's commercial. I was in junior high school when i heard this gentle and fine tune that stayed in my head for weeks. This commercial was using TTT's Sweet Disposition which was their most phenomenal song that year. I didn't know about that until one day, my best buddy, Chacha (also who was the true hero for introducing me to Panic! At The Disco) told me that there was an international band with indonesian as the frontman. It's very common after hearing that, my nationalism increased somehow. I think that's how nationalism in Indonesia works. It only increases when we got Indonesian popular in overseas or a common enemy. Anyway, as an Indonesian, I was so excited as my nationalism also increasing. And then I was getting to know TTT better, and fell in love with Dougy Mandagi. But later on, I change my 'senpai' into Joseph Greer. Why? I don't know, just a true love maybe. hahaha

First Meeting with The Temper Trap
On 2013, not long after I got drunk from TTT's songs, they were coming to Indonesia (Big Sound Fest) with Blur as the main guest. I was so excited and worried that I would lose that opportunity. So, in a bright day at school, in class, I borrowed someone's laptop to buy ticket on the first day! After I ordered, I just realized that I didn't have money. And yeah, I was that dumb. So, I began to call my dad and beg him. Thankfully, my dad was so supportive of whatever I wanted (to be). So, he bought me the ticket. And I was so lucky that my friend got an opportunity to meet them and I was allowed to meet them too. They were so kind and kind and kind and sooo kind. That day, I began to think that I'm gonna get all my dreams (film, food, music) and something big was coming for me.

Thank You Notes for The Temper Trap
Yeah, something big was coming for me. But not a good one. On June (a month after that), I got a major accident that made my right hand paralyzed. They said it could be recovered, but even until now, after 3 years, I'm not sure that it would work again. Anyway, the first 3 months was the hardest time in my life. I couldn't do anything, even it's hard for me to sit properly. I began desperate and crying every night. I forgot everything that I liked: film, food and music. I was so desperate until one day I opened my closet and found the t-shirt that I made. It was signed by The Temper Trap's members and Toby wrote like "amazing t-shirt, natasha!" on it. By seeing that, reminded me of The Temper Trap. I'm not trying to be dramatic, but their songs (somehow) boosted up my confidence and spirit. Almost all of their songs made me like want to punch an elephant. I like all their songs, especially Soldier On, Fools, Fader, Trembling Hands, Science of Fear, Sweet Disposition, Need Your Love, Miracle, Rabbit Hole, The Sea Is Calling, London's Burning, Rest, Leaving Heartbreak Hotel, My Sun, Resurrection etc. Almost every songs basically. Their genre also brought me to Twenty One Pilots, Miike Snow, Oh Wonder, AURORA, Foals and those kind of music. 
So, if someone who is related to The Temper Trap read this, man, please say thank you to them for me. Not only for boosting my confidence up, but  also introducing me to some good music. Tell them to keep making good music and inspiring other people (like me maybe?) because their songs are miracles. Also, good luck for their new album. I'm gonna find a way to buy it.

Their Comeback! 
As I said, TTT is coming back to Indonesia on August. I'm gonna be insane if I don't get to see their performance. There is one insecurity: that I would be discriminated at that festival. I know I sound ridiculous, but we don't know what could happen. But nothing can change my mind. Beside, I got plenty of back ups (my one and only Kak Antie, a mentor in fangirling world, also mother of one and other fangirling mates) that I'm sure would declare a war if I don't get a chance to see TTT and the Festival! (Kepedean abis) 

See you on August (for whoever read this and going to WTF!)

Kamis, 07 April 2016

Pejuang Nonton Mandiri v. Jomblo?

Selamat siang-pagi-sore-malam saat anda membaca ini. Bagaimana kabar anda? semoga kita semua diberi kekuatan dalam menjalani hidup ini.
Pertama-tama, jika (ada) yang bertanya mengapa membuat postingan blog ini? Saya termotivasi untuk menulisnya karena tadi sore, ketika saya bilang ke teman-teman saya bahwa saya ingin menonton 10 Cloverfield Lane, reaksi mereka hampir sama: "Kamu nonton sendiri???!!!". Saya sebenarnya cukup heran mengapa mereka (selalu) bertanya seperti itu. 

Saya sudah menjalani rutinitas tersebut (yang sekarang sudah tidak rutin) selama bertahun-tahun, sejak saya duduk di bangku SMA. Waktu itu lah di saat saya mulai mencintai film dan ingin mengapresiasinya sebaik mungkin. Salah satu bentuknya adalah dengan cara menontonnya di bioskop. Karena saking selonya saya dulu waktu SMA dan lagi cinta-cintanya sama film, hampir setiap minggu saya menyematkan waktu saya untuk ke bioskop. Untuk anak SMA, ke bioskop sesering itu adalah pemborosan uang jajan yang luar biasa. Jadi, saya mulai minta ditemani teman saya dengan iming-iming tiket mereka saya yang bayar.

Suatu ketika, krisis itu datang menerpa. uang jajan saya mulai menipis dan waktu ujian segera tiba. Dasar saya anak terlalu selo, saya terus menonton hingga tidak ada yang mau mengorbankan waktu belajar akademiknya demi menonton film di bioskop. Saya lupa film apa yang saya tonton pertama kali di bioskop sendiri, tapi film itu saya anggap sangat urgent untuk ditonton. Jadi, saya melangkahkan kaki saya ke Ambarrukmo Plaza dan membeli tiket film Indonesia yang saya ingin tonton pada saat itu. Perasaan saya pada saat itu adalah "It was not that bad". Kenapa orang-orang jarang melakukan itu??

Jujur, tradisi nonton bersama memang seru. Akan tetapi, ada keuntungan-keuntungan tersendiri saat kamu nonton sendiri, 
1. Kamu bisa khusyuk menonton film: karena kamu sendiri, tidak ada orang yang dapat diajak bicara atau mengajak bicara kamu (kecuali kamu sksd atau kamu disksdin)
2. Mungkin kamu bertemu jodoh: ketika kamu beli tiket dan melihat kursi terisi sendirian, duduk lah di sebelahnya. Kalau sedang beruntung, kamu mungkin bertemu jodohmu. Kalau kamu sedang apes, mungkin kamu bertemu saya....
3. Kamu tidak akan di-php-in: jujur saja teman-teman, kegiatan yang dilaksanakan bersama-sama itu rawan sekali akan wacana. Begitu pula dengan menonton. Jadi, supaya kamu tidak di-php-in dan terus menunda-nunda, nonton sendiri adalah alternatif terbaik
4. Kamu akan dikira penikmat film sejati: pencitraan itu cukup penting, teman-teman.. anaknya presiden aja juga pernah ngomongin tentang pencitraan.. (maaf ga nyambung, maaf ya Kaesang)

Setiap hal pasti ada plus-minusnya. Selain keuntungan, ada kerugian juga, misalnya:
1. Kamu dikira jomblo: meskipun kamu jomblo atau tidak, pemikiran manusia-manusia sekarang adalah jika kamu pergi sendiri, makan sendiri atau nonton sendiri, kamu secara implisit mendeklarasikan diri sebagai jomblo
2. Kamu mendapat tatapan kosong dari mbak-mbak XXI: hal ini sering terjadi, terlebih lagi ketika saya sedang nonton marathon. Mbak-mbak XXI tersebut seolah sedang melihat kekosongan di diri saya
3. Kamu akan sering kali merasa canggung: hal ini terjadi pada saya ketika saya menonton A Copy of My Mind karya Joko Anwar. Film itu memang penuh dengan romansa. Dan saya tepat berada di tengah-tengah dua pasangan yang menikmati film tersebut. Saya merasa hina

Terlepas dari hal tersebut, saya tetap akan menjalankan ritual saya yaitu menonton sendiri karena saya merasa lebih nyaman dengan hal itu. Selain itu, saya pernah merasakan kerugian yang sangat mendalam akibat tidak menonton sendiri: melewatkan AZRAX. Seperti yang diketahui oleh dunia maya ini, AZRAX merupakan film yang sangat fenomenal dan awal kemunculan film cult Indonesia. Dengan budget 5M dan film dengan efek tulisan 3D yang sekontroversial itu, rasanya melewatkannya adalah penyesalan terbesar dalam hidup  saya. Tetapi, pilihan tergantung pada masing-masing individu. Mungkin saya hanya terlalu introvert untuk (sering) menonton bareng di bioskop.