Kamis, 21 Januari 2016

(OPINI) Trotoar Indonesia: Ruang Kegelisahan Pejalan Kaki

Baru-baru ini saya suka berjalan kaki untuk pergi ke tempat yang sekiranya masih dapat dicapai. Alasan pertama tidak lain karena faktor ekonomi yaitu penghematan. Keadaan saya yang tidak dapat mengendarai kendaraan apapun dan tidak memiliki seseorang untuk mengantar jemput memaksa saya untuk selalu menggunakan jasa ojek baik online maupun tidak. Uang jajan saya pun lebih dari setengahnya hanya dihabiskan untuk ojek. Maka, saya memutuskan untuk memulai penghematan tersebut. Selain itu juga alasan kesehatan. Dikarenakan salah satu saraf pernapasan saya dikorbankan saat operasi, membuat saya harus berolahraga untuk mengembalikan kemampuan bernapas saya seperti semula. Saya memilih berjalan karena sangat mudah dilakukan dan tidak membutuhkan usaha berlebih bagi keterbatasan saya.

Saya memilih untuk berjalan dari kampus saya menuju tempat saya terapi di RS Bethesda Yogyakarta. Rute yang saya ambil berawal dari kampus saya (melewati perpustakaan UGM)- bundaran UGM- SMP N 1- Gramedia- RS Bethesda. Sesungguhnya saya kurang tahu berapa km kah jarak yang ditempuh. Tetapi, apabila saya menggunakan ojek 86, tarif normalnya Rp 10.000 dan ia mencatok harga Rp 2/meter. Jadi bisa kita simpulkan saja jaraknya 1 km.

Sebenarnya, jalan yang ditempuh sangatlah mudah. Hanya tinggal lurus lalu apabila bertemu perempatan Gramedia, belok ke kiri. Namun, di Indonesia tidak ada hal yang mudah bahkan untuk berjalan di trotoar. Saya dapat ibaratkan berjalan di trotoar Indonesia (setidaknya yang pernah saya alami) seperti mengikuti Ninja Warrior, penuh rintangan. Terkadang jalanannya miring, tidak rata, atau bahkan kita harus memanjat. Sampai-sampai saya berpikir mungkin kompetisi Ninja Warrior dapat diadakan di trotoar Indonesia secara alami. Rintangan apa saja yang dimaksud? Berdasarkan pengalaman saya kemarin, rintangan tersebut ada warung/pedagang kaki lima, perilaku pengguna kendaraan bermotor dan bahkan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Warung/Pedagang Kaki Lima
Di jalanan yang saya biasa lewati, banyak tersebar warung/pedagang kaki lima di trotoar. Saya sangat menghargai kehadiran pengusaha-pengusaha independen Indonesia melalui warung/pedagang kaki lima yang tersebar di seluruh trotoar Indonesia. Dan saya juga paham bagaimana jasa mereka untuk menyelamatkan dompet-dompet para mahasiswa (termasuk saya). Akan tetapi, terkadang kehadiran mereka merupakan salah satu rintangan ala Ninja Warrior bagi pejalan kaki terlebih ketika mereka mendirikan warung mereka di sore hari. Saya pernah melewati salah satu warung yang baru didirikan oleh para penjualnya dan kaki saya hampir kejatuhan salah satu besi penyangga. Untungnya, saya sering menonton Ninja Warrior sehingga saya dengan cepat dapat mencegahnya jatuh. Dan untungnya pula, mas-mas penjualnya baik dan cekatan sehingga ia pun dengan tangkas membantu saya menghindari besi itu. Dibalik itu semua, sesungguhnya saya tidak menginginkan kehadiran mereka dihapuskan dari trotoar Indonesia. Saya menganggap kehadiran mereka merupakan salah satu ciri khas yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, mungkin kehadiran mereka dapat lebih diatur lagi di trotoar seperti diberi batasan cakupan wilayah sehingga tidak seluruh bagian trotoar dimiliki oleh warung/pedagang kaki lima dan pejalan kaki dapat diberikan ruang untuk berjalan.

Perilaku Pengguna Kendaraan Bermotor
Bukan sesuatu hal yang aneh lagi apabila para pengguna kendaraan bermotor sering memarkirkan kendaraannya di trotoar. Sering kali pula kita dihadapkan pada ruang-ruang sempit diantara kendaraan-kendaraan yang terparkir tersebut dan memaksa kita untuk melewatinya seperti wanita-wanita WRP melewati kursi. Sayangnya, dapat dipahami bahwa tidak semua pejalan kaki pinggangnya sekecil itu. Hal ini tentunya sangat mengganggu kekhusyukan para pejalan kaki dalam menikmati perjalanan yang indah. Selain itu, sering kali motor menyerobot masuk ke trotoar dan hampir menyerempet pejalan kaki. Tetapi, perilaku pengguna kendaraan bermotor tidak selesai sampai disitu. Banyak pengguna (dari pengamatan saya) yang tidak sadar diri di kala hujan. Jalanan di Indonesia banyak yang tidak rata dan menciptakan kubangan air di pinggir jalan. Tetapi, sering kali motor/mobil tidak memperlambat jalannya ketika melewati kubangan tersebut. Berdasarkan hukum gaya (mungkin, i'm really bad at physics), tekanan dari atas tersebut membuat cipratan-cipratan indah ke sekitarnya. Bayangkan apabila ada pejalan kaki yang berada di sampingnya persis. Sejujurnya, saya dulu pernah mengalami hal tersebut ketika saya dibonceng menggunakan motor. Cipratan tersebut bukan hanya cipratan kecil teman-teman, tetapi ke seluruh badan. Maka, saya menobatkan perilaku tersebut sebagai perilaku (maaf) terbejat oleh pengguna kendaraan bermotor. 

Fasilitas Yang Disediakan Pemerintah
Di Yogyakarta, terdapat halte-halte bus Trans yang menutupi trotoar. Atau tidak ditutupi semuanya dan (lagi-lagi) memaksa pejalan kaki untuk mengikuti perilaku wanita-wanita WRP dengan melewati ruang sempit di belakang halte. Selain itu, uniknya terdapat pohon-pohon atau tanaman lainnya yang ditanam tepat di tengah trotoar. Saya paham bahwa pemerintah ingin membuat suatu ruang hijau di trotoar Indonesia, tetapi pertanyaan saya adalah harus di tengah banget pohonnya? Ada dua hal yang saya khawatirkan atas fasilitas pemerintah tersebut yaitu akses teman-teman kita yang menggunakan kursi roda dan teman-teman kita yang tuna netra. Jelas sekali dapat  dilihat lebar trotoar yang disediakan dengan penghalangan dari halte bus Trans maupun pohon sangat mengurangi akses teman-teman pengguna kursi roda. Bayangkan saja, saya yang berjalan saja harus berusaha sekuat tenaga melewati trotoar yang dihalangi halte bus Trans dan dengan ala-ala wanita WRP. Kalau sial, masih harus melewati motor penjaga halte bus Trans yang juga diparkir di belakang halte. Selain itu, bagi teman-teman kita yang tuna netra juga kesulitan untuk melewati trotoar. Di trotoar Indonesia sebenarnya sudah disediakan jalur penanda trotoar bagi para tuna netra yang berupa bulatan-bulatan menonjol. Akan tetapi jalur ini sering kali menabrak atau putus di tengah pohon yang berada tepat di tengah trotoar ataupun terhalang halte bus Trans. Hal ini tentunya sangat membatasi akses para pejalan kaki terlebih yang menggunakan kursi roda atau pun tuna netra.

Saya disini hanya menyampaikan pengamatan saya selama saya mencoba menjadi pejalan kaki di Indonesia. Apabila pemerintah mengharapkan warganya untuk berjalan kaki dan meninggalkan kendaraan pribadi, mungkin hal-hal yang saya sampaikan bisa dikonsiderasikan keberadaannya. Dan semoga para pejalan kaki di Indonesia senantiasa diberi kemudahan.

Sabtu, 16 Januari 2016

Jurnal Fangirling: Fedi Nuril akhirnya menikah!

Awal 2016 ini, kehidupan fangirling saya sedang berduka akibat pernikahan 2 orang yang sangat berpengaruh pada kehidupan fangirling saya. Pertama, ia bukan seorang public figure sehingga keberadaannya mungkin tidak begitu signifikan di masyarakat pada umumnya, pun keberadaannya sangat signifikan di hati saya. Akan tetapi, saya tidak akan membahas orang tersebut. Yang akan saya bahas adalah Fedi Nuril. Yang tepat ketika saya menuliskan ini, yaitu 17 Januari 2016 menikah dengan wanita yang disebut-sebut berasal dari kota yang sama dengan saya, yaitu Yogyakarta. Terdapat kebanggaan tersendiri ketika saya menuliskan kalimat tadi, tapi ya sudahlah...

Saya hari ini sengaja tidak menyalakan TV agar tidak melihat berita infotainment. Niatnya sih supaya hati fangirling saya yang rapuh ini tidak menjadi semakin rapuh dengan berita mengejutkan tersebut. Nampaknya dewi fortuna juga sedang bersama dengan saya karena saat saya menuliskan ini saya sedang dalam perjalanan ke Semarang. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir kegundahan hati fangirl saya.



Mengapa Fedi Nuril?

Jujur, kalau saja di malam yang sepi itu ia tidak berada di mimpi saya secara gerilya, mungkin keadaan hati saya menyikapi pernikahan hari ini akan baik-baik saja atau malah cenderung tidak peduli. Malam itu, saya berada di RS Premier Bintaro yaitu tempat dimana saya melakukan operasi demi kesehatan jasmani saya. Operasi tersebut memakan waktu 11 jam dan mengakibatkan 1 malam saya diinapkan di ruangan semacam ICU. 

Mungkin akibat lelah atau tertular sindrom ketemu artis yang ditularkan oleh suster ICU yang sangat excited melihat Once menjenguk seseorang (bukan saya tentunya) di ICU, malam setelah saya dipindahkan di kamar biasa, saya langsung mimpi mengenai artis. Dan somehow, itu Fedi Nuril. Sebelumnya, saya tidak memiliki ketertarikan khusus dengan salah satu pria ideal itu. Di saat teman-teman saya membicarakan tentangnya, saya sebagai anak (yang ingin dipanggil) hipster memilih pria yang lebih artsy untuk difangirl-in. Sebut saja Dougy Mandagi (The Temper Trap) ataupun Donny Alamsyah di video klip Andra and The Backbone yang hitamku dengan rambut gondrong basahnya. Akibat Fedi Nuril, saya menjadi fangirl untuk pria setipe dengannya seperti Marshall Sastra. Jadi, Fedi Nuril sebenarnya merupakan titik tolak selera atau bahkan kehidupan fangirling saya. 

Jangan bicarakan bagaimana mimpinya ya. Hingga sekarang, saya sangat malu untuk menceritakannya secara langsung. Meskipun begitu, mimpi tersebut sungguh sangat epik dan mengandung unsur horor serta memasukan salah satu teman saya dan motornya. Padahal sebelumnya saya belum pernah melihat motornya, tetapi ketika saya cerita mengenai mimpi saya ke teman saya yang lain, ciri-cirinya sama. Apakah ini salah satu pertanda bahwa saya memiliki indra keenam seperti yang dimiliki Joshua Suherman masa kecil di sinetronnya? Semoga saja tidak ya.

Surat (Agak) Terbuka Untuk Fedi Nuril

Kepada Fedi Nuril yang telah menikah seiring dengan dipublikasikannya tulisan ini,

Mungkin anda bertanya-tanya, ini manusia macam apa yang mau mempertaruhkan citranya dengan menulis surat yang sebenarnya tidak penting bagi nusa dan bangsa. Di saat teman mahasiswa saya berbondong-bondong menulis surat terbuka pada pejabat dengan mengutarakan kegelisahannya dan bahkan ada salah satu teman saya yang mengirimkan surat terbuka pada Ibunya untuk mengkritisi sistem keuangan perkuliahan, saya malah repot-repot mencemari hari paling bahagia anda dengan tulisan ini. Akan tetapi, itulah sebenarnya esensi fangirling. Kami tahu bahwa hal ini tidak penting untuk dilakukan dan tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupannya, but we'll do it anyway. 

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya. Gimana pernikahannya? Ramai lancar? Tidak ada tamu yang secara mengejutkan muncul padahal tidak diundang kan? Saya hanya khawatir saja mengingat undangan tersebut tersebar secara viral. Well, semoga pernikahannya sakinah mawadah warramah ya. 

Apa yang membuat saya tergerak untuk menuliskan (surat) ini untuk anda adalah karena saya cukup terkejut dengan pernikahan yang ada tanpa berdamai dengan hati fangirl saya dahulu. Akan tetapi, siapalah saya ini, hanya seonggok daging yang terpesona akan kharismamu di mimpi yang bahkan belum menonton salah satu film terlarismu yaitu Surga yang Tak Dirindukan (saya akan beli DVD originalnya secepatnya kok!). Maaf kalau misalnya tulisan ini sangat mencampuri kehidupan pribadi anda, hal ini sudah seperti naluri fangirl yang saya miliki. 

Tentu di dalam hati seorang fangirl seperti saya ada kekecewaan ketika berita pernikahan itu tersebar. Di lingkungan pertemanan perkuliahan saya saja banyak yang sanubarinya terguncang mendengar berita tersebut. Tetapi tenang saja, hal itu tidak hanya terjadi pada anda. Saya yakin, itu juga terjadi pada hampir seluruh pria Indonesia ketika mendengar Dian Sastro menikah beberapa tahun lalu. Mungkin untuk beberapa saat, kami akan sedikit terguncang. Tetapi saya sebenarnya juga cukup bahagia mendengar anda akhirnya menikah juga. Sebagai pria yang sudah cukup matang, memang jauh lebih baik untuk menikah sekarang sebelum negara api menyerang.

Terlepas dari berbagai hal tersebut, saya salut dengan kemahiran anda untuk menyembunyikan hubungan yang sakral ini. Yang saya dengar, anda telah menyembunyikan ini dari tahun 2013? Subhanallah, saya bahkan susah untuk tidak menceritakan hal yang tidak penting seperti mimpi saya sehari saja kepada teman saya. Sungguh, saya salut.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan merasa terbebani dan terganggu akan kehadiran fangirl anda di luar sana (termasuk saya). Sesungguhnya, kami diciptakan untuk menyajikan hiburan pada anda secara viral. Bisa dilihat melalui komentar-komentar lucu yang selalu dihadirkan oleh kami di Instagram yang dipenuhi foto-foto mempesona anda atau mungkin surat (agak) terbuka ini bisa jadi salah satu alternatif hiburan anda (semoga dibaca dan tidak menyinggung). 

Last but not least Fedi, kami sebagai fangirl anda akan selalu mengagumi anda tanpa melihat statusmu sebagai lajang, suami atau pun  ayah (seperti film mu yang baru) tanpa bermaksud merusak kehidupan pribadi anda. Dan jangan salah artikan afeksi kami terhadap anda (maupun keluarga anda). Semoga kehidupan anda bersama istri selalu diberkahi tanpa henti. 

Tertanda, Fangirl mu angkatan 2015 (bulan Agustus tepatnya) yang tidak terdaftar dalam fansclub

Surat kepada Sang Istri
Teruntuk istri seorang Fedi Nuril,

Hai, salam kenal. Saya takut salah memanggil nama anda karena saya belum tahu anda biasa dipanggil apa, tetapi saya dengar anda berasal dari Yogyakarta? Kalau begitu, kita berasal dari tempat yang sama. Pernikahan ini juga membuat saya merasa cukup bangga  dengan segenap semangat primordial, ada seorang Yogyakarta yang menikahi Fedi Nuril.

Saya sebagai fangirl Fedi Nuril ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi anda dan Fedi. Saya tahu pasti akan berat bagi anda untuk mendengar berita atau pun kata-kata yang tidak menyenangkan dari fangirl yang masih terpukul dengan berita pernikahan ini. Tetapi dibalik itu semua, pasti ada fangirl yang senantiasa membantu anda dalam mengatasi hal tersebut. Tapi kalau tidak ada kata-kata negatif, ya alhamdulillah berarti hidup anda dan suami sangat diberkahi dan saya turut senang mendengarnya.

Anyway, semoga anda tidak menganggap surat ini sebagai sesuatu yang offensive dan menganggapnya sebagai hiburan. Saya tidak pernah bermaksud menyakiti hati anda. Dan saya sangat menghargai Fedi Nuril dan ada sebagai manusia yang memiliki ruang privasi. Saya hanya berusaha untuk mencurahkan keterkejutan saya dilihat dari perspektif seorang fangirl

Sekali lagi, semoga kehidupan berumah tangga anda dan Fedi selalu diberkahi dan tidak pernah henti-hentinya diberikan kemudahan. Terima kasih

Tertanda, seorang fangirl dari suami anda yang tak perlu anda khawatirkan keberadaannya


Transformasi: Tulisan, Pikiran dan Kehidupan

Hello, it's been awhile since i wrote my last post.

 Saya hanya akan memberitahukan bahwa akan terjadi perubahan dalam cara saya menulis. Dimulai dari yang paling sederhana: penggunaan kata 'gue'yang diubah menjadi 'saya'. Bukan bermaksud untuk menjadi sok atau gimana, tapi saya merasa 'gue' sudah tidak cocok lagi. Mungkin karena saya mulai terbiasa menggunakan bahasa baku dalam perkuliahan (ceilah!). Tapi saya harapkan jangan jadi spaneng ya...

Konten dari blog ini ga akan saya ubah. Masih tentang kehidupan (yang sebagian hina) saya. Saya sebenarnya ingin sekali terlihat akademis seperti teman-teman saya yang memiliki tulisan akademis. Tetapi, apa daya di saat teman-teman saya membaca Washington Post, saya masih sibuk membaca kapanlagi.com. Atau, ketika mereka menonton analisis ekonomi di Kompas TV, saya masih mantengin Insert siang dengan rasa penasaran kelanjutan curhatan Mulan Jameela di YouTube. Maaf terkesan promosi (toh yang baca dikit ini) Meskipun terdapat perubahan, saya memilih untuk tidak menghapus postingan blog saya sebelum ini. Kenapa? Bukankah itu berarti melanggengkan aib? well, itu memang aib. Tapi saya percaya, suatu kenangan butuh disimpan dengan baik, dipelajari dengan seksama sembari berjalan ke tingkatan kehidupan kedepannya. Ya, dan itu termasuk kealayan.  


Anyway 



 A lot of things happenned to me since 2013. When i said a lot, i mean A LOT! 2013 merupakan tahun yang jujur aja berat bagi saya. Ketika saya sudah memiliki rancangan indah akan kehidupan saya, tiba-tiba kecelakaan itu terjadi. Saya sekarang dapat dikatakan lumpuh di tangan sebelah kanan. Apakah itu suatu pukulan? Jelas. Kelumpuhan ini menghancurkan rencana saya, segalanya.


 Saya memiliki rencana untuk menjadi fotografer profesional yang akhirnya saya hapus karena saya menjual kamera dslr yang saya dapat dari orang yang baik hati. Saya sempat mencoba untuk berlatih menggunakan kamera tersebut,tetapi saya frustasi. Selain itu, impian saya sekolah di Australia dengan jurusan perfilman juga harus tertunda. Saya seharusnya lulus SMA menyusul mama saya di sana, tetapi nampaknya akan lebih susah untuk saya maupun mama saya untuk hidup di sana dengan kondisi tangan saya yang seperti ini. Kenapa saya bilang tertunda? Karena setelah saya lulus (saya sekarang kuliah di Jurusan HI), saya berencana untuk kuliah perfilman. Banyak yang bilang 'kamu ga takut boros umur?', selama itu mendekatkan saya pada impian saya (termasuk bertemu Abimana Aryasatya) saya akan terus berusaha untuk mengejarnya. Jadi, doakan ya!!

 Yang terakhir dan paling besar adalah lepas dari belenggu ayah saya. Jangan artikan secara harfiah ataupun negatif akan kata 'belenggu'. Ayah saya baik, dan termasuk bukan ayah yang otoriter. Bahkan, hampir semua kebutuhan materiil dipenuhi olehnya. Tetapi, saya merasa ada belenggu diantara kita. Sewajarnya orang tua, ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi sayangnnya, saya terlalu keras kepala dengan apa yang saya inginkan. Misalnya, ketika pemilihan jurusan kuliah. Ayah saya membebaskan saya untuk memilih jurusan yang saya inginkan. Saya memilih Sastra Indonesia tetapi ayah saya melihat bahwa hal tersebut kurang cocok dengan kemampuan saya dan alhasil memilih jurusan HI sebagai hasil akhir. Selain itu, saya juga merasa terbebani dalam mengambil setiap keputusan yang saya buat. Ketika saya ditanggung oleh ayah saya, saya merasa bahwa setiap keputusan yang diambil oleh saya harus membahagiakan dan tidak boleh mengecewakannya. Ya, mungkin saya terkesan tidak pandai bersyukur (mungkin memang tidak). Saya akan berusaha memperbaiki hal tersebut.

Dibalik kelumpuhan ini, saya ternyata juga mendapatkan dampak positif kok. Dampak-dampak tersebut akan saya utarakan dipost selanjutnya (hopefully, kalo ga mager). 

 Itu aja sih yang ingin saya kabarkan pada anda sekalian. Maaf apabila ada yang menyinggung anda maupun siapapun yang anda sayangi. Silakan ditunggu postingan lainnya ya!

Selasa, 18 September 2012

'Dunia' Baru

Pernah ngerasain ada di dalam sebuah film waktu nonton film? baik di layar kaca, bioskop maupun komputer? Kalau saya sih jawabannya Sering.

Yak, film. Film itu bagi gue semacam kesenian yang komplit dan praktis. Komplit, semua unsur dari musik, visual dan alur cerita ada di dalam suatu film. Praktisnya, film bisa dibawa dan ditonton dimana saja. Sekarang, berbekal komputer, kita udah bisa nonton film.

Film itu bisa jadi 'Dunia' Baru bagi orang-orang kesepian, bukan secara fisik loh ya, kita lebih semacam merasa kesepian diantara keramaian manusia (jadi curhat). Kalau gue sendiri, pada waktu nonton film action, gue sering ngerasain gue ada di dalam film itu. Bukan sebagai orang ketiga, yang cuma diam dan ngeliatin si tokoh main. Gue lebih ngerasa sebagai salah satu saksi dan partisipan yang dapat membuat kejadian/scene itu terjadi.

Gue juga sering ngerasa asing setelah selesai nonton film. I feel like i don't belong to this thing what you call 'reality'. I belong to a huge world what you call 'movie'. Gue selalu merasa 'kosong' setelah nonton film, apalagi film yang penuh dengan fantasi (setidaknya itu anggapan lo tentang film superhero).

Pada saat gue nonton film, gue lebih memposisikan diri gue ada dalam film itu, meskipun gue terkadang suka mengamati efek dan lain-lain dari film tersebut. However, Let's enjoy what the crews have made for us. We pay for the movie, we feel the movie.

Feel free to live in the movie

Sabtu, 24 Desember 2011

RULES OF LIFE


1. Make peace with your past, so it doesn't spoil your present!
2. What others think of you, is none of your business
3. Time heals almost everything, give time, to do its job!
4. No one is the reason for your happiness, except yourself
5. Don't compare your life with other's you have no idea what their journey is all about
6. Stop thinking too much, it's alright not to know all the answer

Kamis, 08 Desember 2011

Lesson of the day

The difference between true education and vocational training has been cleverly blurred.
The first principle of people control is not to let them know you are controlling them. If people knew, this knowledge will breed resentment and possibly rebellion, which would then require brute force and terror, and old fashioned, expensive and not 100 % certain method of control.
It is easier than you think to control people indirectly, to manipulate them into thinking what you want them to think and doing what you want them to do.

One basic technique is to keep them ignorant. Educated people are not as easy to manipulate. Abolishing public education or restricting access to education would be the direct approach. That would spill the beans.
indirect approach is to control the education they receive.
It's possible to be a Ph.D., doctor, lawyer, businessman, journalist, or an accountant, just to name a few examples, and at the same time be an uneducated person. The difference between true education and vocational training has been cleverly blurred in our time so that we have people successfully practicing their vocations while at the same time being totally ignorant of the larger issues of the world in which they live.

The most obvious symptom is their absence of original thought. Ask them a question and they will end up reciting what someone else thinks or thought the answer was. What do they think, Well, they never thought about it. Their education consisted of learning how to use the library and cite sources.
That greatly simplifies things for the controller because with lots of money, university endowments, foundations, grants, and ownership of media, it is relatively easy to control who they will think of as authorities to cite in lieu of doing their own thinking.

Another technique is to keep them entertained. Roman emperors did not stage circuses and gladiator contests because they didn't have television. We have television because we don't have circuses and gladiator events. Either way, the purpose is to keep the people's minds focused on entertainment, sports, and peripheral political issues. This way you won't have to worry that they will ever figure out the real issues that allow you to control them.

Just as a truly educated person is difficult to control, so too is an economically independent person. Therefore, you want to create conditions that will produce people who work for wages, since wage earners have little control over their economic destiny. You'll also want to control the monetary, credit, and banking systems. This will allow you to inflate the currency and make it next to impossible for wage earners to accumulate capital. You can also cause periodic deflation to collapse the family businesses, family farms, and entrepreneurs, including independent community banks.

im saying the elites of society the high earners leeches the rich the politions do not have your interests at heart.
so free yourself from a dependance to an inflatable megear cash income after securing a place to live and grow food and or raise lifestock
because otherwise you will findyourself stuck with a brand and not enough stuff at hand


source: the person who always makes me smile

Sabtu, 19 November 2011

The Fray - You Found Me

Hey, Jadi kali ini bukan 'membahas' sih, lebih kayak ngasih tau salah satu lagu yang *cukup* menyentuh. Bukan tentang percintaan, tapi lebih ke-Ketuhanan.

Lagunya berjudul You Found Me dari The Fray. Lagu ini sih sebenernya cukup simple untuk temanya. Tentang kegalauan seseorang akan ada atau tidaknya tuhan sebenarnya.

well, just check this out