Jumat, 17 November 2017

Tuah: Pertemuan dengan Rukman Rosadi

Kalian pernah benar-benar merasakan keajaiban dan keberkahan dari Tuhan?
Rasanya, sebelum hari ini, saya tidak pernah. Namun, sejak tanggal 14 November 2017 kemarin, saya percaya bahwa keajaiban dan keberkahan Tuhan adalah nyata: bertemu Rukman Rosadi.

Mengapa bertemu seseorang merupakan sebuah keajaiban dan keberkahan? Cukup panjang ceritanya, namun yang membuat saya tergagu-gagu adalah bagaimana saya dipertemukan oleh beliau.

Tepat 24 jam yang sebelumnya, saya berbincang dengan teman saya, Jasmine, mengenai tahun ini yang terasa sangat gila karena saya dipertemukan oleh orang-orang yang berada di bucket list saya sebelum saya pindah seperti Joko Anwar, Abimana, Rifnu Wikana, Ismail Basbeth. Lalu, Jasmine bilang 'Kurang Rukman Rosadi ya?'. Saya hanya tertawa dan berpikir, semoga dapat bertemu di JAFF Desember ini, meskipun saya kurang yakin.

14 November 2017

Saya bertekad untuk menonton Wage hari ini. Selepas terapi, saya bergegas untuk mengejar jam tayang Wage di Jogja City Mall. Jalanan Jogja saat itu memang mengerikan, namun saya berhasil selamat.

Sesampainya di JCM, saya bergegas mengambil uang dengan bersumpah serapah memikirkan betapa jauhnya letak ATM Center ini. Saya berlari menuju elevator menuju lantai tujuan. Sayangnya, elevator saat itu cukup padat dan berhenti di hampir setiap lantai. Sebagai anak muda yang sangat bergelora untuk mengejar jam tayang Wage, saya kembali bersumpah serapah dalam hati di setiap lantai yang berhenti. Sampai di satu lantai, saya melihat seseorang yang familiar ragu untuk masuk elevator karena setengah penuh: RUKMAN ROSADI. Pintu elevator tertutup tanpa kehadirannya. Hati fangirling saya mulai menggebu-gebu dan mengirimkan pesan singkat ke dua teman saya, Jasmine dan Mega.

'KOK KAYAKNYA GUE BARU KETEMU RUKMAN ROSADI YA'.

Panik tapi saya langsung berpikir harus fokus untuk tidak terlambat mengejar Wage. Sampai di lantai tujuan, saya hampir masuk ke XXI sambil berlari ketika menyadari seorang Rukman Rosadi berjalan di samping saya. Dengan kepanikan alay saya, saya langsung beli tiket nonton Wage yang juga diikuti beliau. Setelah membeli minum, saya langsung masuk ke studio, yang juga diikuti beliau.

Momen saya duduk di studio yang sama dengan beliau adalah momen termagis saya tahun ini.

Interaksi

Singkatnya, setelah saya menonton Wage dengan agak panik, saya menunggu beliau keluar dari XXI. Ada kegetiran untuk mendatangi beliau, karena saya hanyalah seonggok daging yang stratanya jauh di bawah beliau. Namun, setelah ingat kemungkinan tidak akan bertemu beliau lagi tahun depan, saya berubah menjadi seorang yang mempersetankan strata.

Saya datang ke beliau dan memperkenalkan diri selayaknya manusia. Beliau sedikit kaget karena saya mengenalnya, tapi saya juga lebih kaget beliau mengingat nama saya di Instagram yang memang pernah saya manfaatkan untuk mengirimkan pesan ke beliau. Saya jauh lebih kaget ketika beliau mengajak duduk untuk mengobrol. Kami mengobrol dengan banyak topik namun cukup singkat dengan saya yang masih terjebak dalam pikiran-pikiran yang sedang 'menggila-gilakan' semesta.

Kami berfoto dan pamit. Satu kalimat yang ia lontarkan yang cukup membuat saya sedih, 'Sampai ketemu lagi ya, Natasha'. Dalam hati saya, 'iya mas, entah kapan'....

Anyway, itu lah pertemuan yang merupakan sebuah keajaiban untuk saya. Kenapa?
Fakta bahwa 24 jam sebelumnya saya dan Jasmine membicarakan tentang beliau, fakta bahwa beliau yang tinggal di daerah selatan rela untuk datang ke JCM demi Wage, dan fakta bahwa kami datang di saat yang bersamaan itu tidak sampai di logika saya. Rasanya terlalu kebetulan untuk menjadi sebuah kebetulan.

I'm not really a religious person, pals. But after I experienced how I met Rukman Rosadi, it seems the God's work is real. God is good, man!

Senin, 28 Agustus 2017

Sang Panglima dan Panggungnya

Panggung ini. Panggung yang megah untuk ditatapi. Panggung yang indah untuk dipandangi. Panggung yang sempurna untuk dinikmati. Sesempurna Sang Panglima yang selalu gagah perkasa menyelamatkan rakyat jelata. Setiap minggu, di jam yang sama, di tempat ini, ia selalu bertekad untuk menyelamatkan rakyat yang mempercayainya, baik dari Sang Raja, Sang Penyihir maupun Sang Penjajah. 

Baris ke-4 adalah tempat favoritku. Tak ada makna filosofis dibaliknya. Aku hanya suka menatapnya dari baris ini. Tidak terlalu menengadah maupun bersusah payah melompat-lompat. Kalau ingin dibuat filosofis, baris ke-4 melambangkan sudah 4 tahun aku menikmati panggung ini. Mengagumi Sang Panglima. 

Itu dia mulai menyelamatkan rakyatnya. Ia selalu punya cara untuk itu. Meskipun terlambat, namun bukan kah pahlawan selalu datang terlambat? Tapi, kapan giliranku? Kapan ia menyelamatkanku dari ketidakadilan? Ia telah terlambat bertahun-tahun sejak bedebah-bedebah itu merenggut harga diriku. Ah, namun siapa diriku? Aku bahkan lebih rendah daripada rakyat jelata. Aku hanya seorang narapidana yang menunggu kematian.

Jumat, 28 April 2017

Surat Cinta untuk Kalian, Para Pejuang

Hai teman-teman mantan tim KKN ku, 
Aku merasa aku harus menulis surat ini. maaf aku terkesan sangat lebay dan drama sampai harus menulis ini. karena masih ada yang belum tersampaikan di perpisahan tadi.
Aku tahu aku baru sebentar mengenal kalian, baru beberapa kali bertemu kalian. Tapi, awal mula kita bertemu, aku sudah jatuh cinta sama kalian. Aku merasa nyaman. Aku merasa 'pulang'. 
Aku tahu aku belum begitu hadir di tim ini, karena kecanggunganku untuk berinteraksi dengan banyak orang sekaligus. Tapi, aku selalu suka mendengarkan kalian, candaan maupun keluh kesah kalian.

The moment i met you guys, i knew i just found a home.

Kalian bagai rumah untukku. Rumah yang aku sulit untuk temukan akhir-akhir ini. Dan ketika rumah itu harus diambil, aku merasa kehilangan. setidaknya untuk sekarang.

Untuk Tengdu, Mb. Er, Mb. Maya, Aswin, Bang Zed, Titis. Maaf kalian harus melihat kelemahanku kemarin hari. Aku sebenarnya sangat benci untuk melakukan hal tersebut. Tapi hari itu dan momen itu, aku sedang lelah-lelahnya dengan kehidupan ditambah kemarahan itu. Aku bingung gimana harus bersikap, jadi aku memilih jalan pintas untuk menangis. Dan terima kasih sudah menemaniku saat itu.

Untuk teman-teman cluster soshum kece ku, 
Dyas: terima kasih untuk bimbingannya dan rumpinya selama ini. Terima kasih juga di tengah-tengah rapat bersedia membantuku menyelesaikan sebuah paper laknat. 
Sari: terima kasih sudah menjadi teman kkn pertama yang me-follow instagramku. Terima kasih sudah jadi pawang kucing di tengah-tengah rapat. Semoga kamu segera bisa mengadopsi kucing disini.
Niken: terima kasih buat pertemanannya. Terima kasih untuk berbagi tatapan bingung ketika ditanyain apa perkembangan cluster soshum kece waktu Dyas ga ada. 
Bang Zed: terima kasih buat cerita-ceritanya. Terima kasih juga buat air minumnya kemarin. Semoga kehipsteranmu membawamu pada jodoh yang berasal dari mana saja. Semoga tahun ini, Bang Zed bisa diberikan kemauan untuk menyelesaikan tulisan 30++ halaman itu. 
Aku akan rindu cerita-cerita horror kampus ugm kalian. Jangan lupa untuk ajak aku mendaki bersama. 

Untuk semuanya, aku mungkin kurang mengenal satu-per satu dari kalian. Tapi, aku merasa aku udah sayang kalian. Kalian sudah berada di tim yang tepat untuk berproses bersama. Dijaga ya keharmonisannya!

Ketika kalian punya keraguan di diri kalian, ingatlah bahwa tidak perlu IP 4 atau lulus cepat untuk menjadi yang terbaik. Cukup berpikiran terbuka dan memiliki kepedulian untuk jadi yang terbaik. Just like you guys. 

I love you guys, and you're part of the best people I've found. 
Good luck for your KKN, I believe that they are lucky to have you guys in that place. 

Cheers!

Selasa, 25 April 2017

Proteksi atau Diskriminasi? Hanya luapan kegelisahan.

Ah, sudah lama saya tidak menulis mengenai kegelisahan saya selama ini. Hari ini, semua kegelisahan saya sudah terbukti.

Momen KKN merupakan salah satu momen paling berharga bagi mahasiswa. Saat itu, kita sebagai mahasiswa dituntut untuk berproses dan beradaptasi dengan lingkungan. Namun, sayangnya momen tersebut tidak begitu ramah bagi orang-orang seperti saya (baca: orang yang dianggap memiliki 'kekurangan'). 

Pada umumnya, mahasiswa membentuk tim KKN yang beranggotakan strategis, begitu pun saya. Setelah berkali-kali ditolak, akhirnya saya menemukan sebuah tim yang sangat inklusif menurut saya. Terdiri dari berbagai macam sifat dan generasi membuat saya mengagumi kepribadian mereka satu per satu. Kebahagiaan saya untuk bergabung dengan mereka terancam karena alasan 'kesehatan' saya. Bagi yang belum tahu apa yang dimaksudkan dengan 'kesehatan' saya, begini ceritanya:

4 tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor dan membuat saya mengalami 'brachial plexus injury' dimana terdapat goresan atau bahkan putus saraf di pundak dekat leher bagian kanan saya. Hal itu membuat saya kehilangan sebagian besar kemampuan motorik maupun sensorik. Butuh waktu sekitar 6 bulan bagi saya untuk kembali beraktivitas dengan normal dan mandiri seperti memakai baju, menulis maupun hal-hal yang selayaknya dilakukan perorangan. 

Kembali ke permasalahan KKN. Dengan pertimbangan kondisi fisik saya, saya terancam untuk berada dipindahkan ke lokasi yang jauh lebih dekat. Saya sebenarnya tidak keberatan untuk berada di lokasi manapun, toh judulnya 'mengabdi'. Yang membuat saya sedih adalah bagaimana kapabilitas saya harus diragukan atau bahkan terhalang dengan kondisi fisik saya. Katanya, SOP yang mengharuskan saya untuk 'ditolak' seperti itu. Katanya, hasil kesehatan saya mengharuskan saya untuk seperti itu (meskipun saya dengar sebenarnya saya baik-baik saja dan dapat ditempatkan dimana saja). Yang paling membuat saya nyesek adalah kata-kata 'saya kan ga bisa me-review case-by-case karena kondisi kesehatan yang berbintang ada ratusan (saya lupa berapa). akan repot.'. Saya tidak bisa menahan tangis saya ketika saya mendengar itu. Kenapa? Karena saya merasa itu sebuah upaya men-generalisir suatu kondisi seseorang. Dan kasus saya, bukan lah kasus yang general. Kata 'repot' membuat saya merasa menjadi beban.

Saya paham maksud beliau dan orang-orang yang memiliki SOP adalah baik. Tidak ingin ada permasalahan kesehatan yang akan membahayakan individu tersebut atau pun tim. Namun, apa yang saya punya bukan lah masalah 'kesehatan' pada umumnya. Saya tidak punya kondisi kesehatan yang dapat membahayakan nyawa saya. Saya telah mempunyai ini selama 4 tahun. Saya lebih suka untuk berpikir apa yang saya punya bukanlah kekurangan, melainkan perbedaan. Dengan keterbatasan saya, saya masih bisa melakukan apa yang orang dengan fisik pada umumnya lakukan. Saya pergi ke gym, jogging, berenang (saya cukup ahli berenang), menyelam, main basket (masih harus beradaptasi), bahkan saya sedang berusaha untuk melakukan planking selama 1 menit (doakan saya!). Pada tahun awal saya memiliki ini, saya berhasil untuk melukiskan sebuah wanita di kanvas. Saya sering berpergian, membawa bawaan cabin saya yang mungkin mencapai 5 kg (atau lebih) dan menolak dibawakan oleh mas-mas ganteng bermata biru di Melbourne (disclaimer: mas-mas adalah pria berumur 30-45). Saya sudah terbiasa tersesat maupun berlari mengejar pesawat di bandara. Saya pergi ke konser dan harus bertingkah selayaknya pemain UFC karena kerasnya kontak tubuh dengan orang lain. Pada dasarnya, saya memiliki kemampuan seperti kalian yang memiliki fisik normal. Saya hanya punya cara yang berbeda untuk melakukannya. 

Saya sedih karena ketika saya mendapatkan kenyataan ini, saya berpikir bahwa masih banyak orang di luar sana yang belum cukup paham tentang ini. Saya baru memiliki ini selama 4 tahun tapi bagaimana dengan orang yang difabel sejak lahir? Apakah mereka selalu mendapatkan bentuk 'proteksi' yang berbeda tipis dengan diskriminasi? Bagaimana mereka harus menerima kenyataan untuk menjadi minoritas yang terkadang diabaikan kapabilitasnya? Saya sangat mengerti bahwa langkah-langkah yang diberikan dimaksudkan sebagai bentuk proteksi. Tetapi saya bisa jamin, tidak semua individu yang memiliki perbedaan ini nyaman dengan keistimewaan yang diberikan. Jujur, ketika awal saya diberikan ini, saya merasa nyaman karena saya diperhatikan dan diberikan keistimewaan tertentu. Lalu, saya mulai merasa gusar setelah setahun, rindu untuk diperlakukan seperti orang lain yang berfisik 'normal' dan mulai berpikir bagaimana mereka sebenarnya melihat saya. Apakah mereka melihat saya dengan tatapan mengasihani? 

Kegelisahan saya selama ini sudah terbukti pada hari ini. Saya dinilai berdasarkan apa yang terlihat maupun hasil tes kesehatan yang bahkan hanya berlangsung 5 menit atau kurang dan bukan dari apa yang bisa saya lakukan. Saya berpikir bahwa saya akan selalu diragukan atas apa yang saya punya ini, perbedaan ini. Mungkin memang saya terkesan egois karena hanya melihat dari sudut pandang sendiri, tapi saya percaya bahwa setiap individu berhak memiliki kesempatan untuk berkembang lebih besar dari batas-batas yang diberikan oleh masyarakat pada umumnya.

Dan untuk tim (atau mantan) KKN saya, terima kasih untuk penerimaannya selama ini. Setelah saya ditolak lebih dari 5 kali (mungkin karena tangan saya atau bukan), kalian menerima saya beserta apa yang dikatakan orang-orang sebagai kekurangan dengan tangan terbuka. Jangan menjadikan apa yang terjadi sebagai beban moral. Saya malah merasa berterima kasih di tengah-tengah keraguan orang-orang akan perbedaan saya, ada orang-orang seperti kalian yang mau percaya pada saya. Terima kasih karena telah membuat saya merasakan penerimaan di tengah-tengah penolakan. Maaf saya sudah merepotkan kalian dengan birokrasi yang sangat berbelit-belit. Maaf juga saya belum dapat berkontribusi dengan maksimal dan sesuai harapan. Saya baru bertemu dengan masing-masing dari kalian sebentar, tapi saya tahu kalian orang-orang baik. Orang-orang spesial. Semoga apapun yang terjadi nantinya, menjadi sesuatu yang berharga untuk dikenang.

Jumat, 09 Desember 2016

Review Ala Ala: Headshot (Spoiler)

"Seorang pria terbangun tanpa mengetahui apapun yang mengejar nyawanya"
Setidaknya, itu satu kalimat penggalan mengenai Headshot yang disutradarai oleh MoBros. Ketika trailer Headshot keluar, banyak yang menyamakannya dengan The Raid. Saran saya? Jangan sama kan, wong sutradara dan alur ceritanya beda!

Tertanggal 9 Desember 2016 ini, saya menonton Headshot tanpa memiliki ekspektasi apapun. Ketika saya memikirkan film action Indonesia, saya selalu membandingkan dengan The Raid dan lama-kelamaan saya mulai lelah dan sadar bahwa perbandingan tersebut sangat tidak adil bagi film-film lainnya. Jadi, saya mulai dengan ekspektasi nol dan tanpa membaca sinopsis film sama sekali. 

Di dalam Headshot saya mempelajari karakter Ishmael (Iko Uwais) yang mengalami amnesia karena suatu tembakan di kepala. Ia dirawat oleh seorang calon dokter, Ailin (Chelsea Islan). Di tengah usahanya untuk mendapatkan ingatannya kembali, Ishmael dikejar-kejar masa lalunya yang dipimpin oleh sosok misterius, mr. Lee (Sunny Pang). Kehidupan Ishmael pun semakin kompleks dengan kehadiran Tejo, Tano, Besi dan Rika (David Hendrawan, Zack Lee, Very Tri Yulisman, Julie Estelle). 

Disini, saya akan kembali mengutarakan pendapat dengan segala kesotoyan saya yang mungkin bagi beberapa pihak tidak dapat ditoleransi.

1. Plot
Banyak yang menyamakan film ini dengan Bourne. Menurut saya, mereka tidak salah karena background ceritanya sebenarnya sama yakni seorang pria yang terlihat 'lost' dengan semua yang ada di sekitarnya. Tetapi, jujur saya tidak memiliki masalah dengan kemiripan cerita ini karena toh konflik yang disajikan berbeda dan tidak sama persis dengan Bourne. Plot yang ditawarkan membuat perbandingannya dengan The Raid tidak terlalu relevan. Headshot hadir dengan kehilangan dari seorang pria yang dramatis dan dilematis. Kehilangan yang berujung pada penemuan ini lah yang menjadi titik dimana unsur drama yang tidak menye tetapi juga tidak terlalu serius untuk diikuti. Banyak yang takut ini akan menjadi titik lemah Headshot. Dengan segala kesotoy-an saya, saya akan bilang tidak. Saya pikir ini merupakan unsur beda yang tidak dimiliki film action Indonesia pada umumnya (tentunya film kebanggaan kita, Azrax tidak termasuk karena Azrax adalah kunci). Anyway, permasalahannya adalah ada beberapa cast yang masih sangat kaku dalam penyampaian cerita. Ada yang menyebut Iko cukup kaku. Saya sendiri sebenarnya tidak merasa masalah dengan akting Iko, mungkin karena saya sudah 'terbiasa' dengan aktingnya di MerantauFilms. Atau mungkin karena memang akting Iko di Headshot baik-baik saja. Saya bukan pengamat akting orang dan karena saya juga tidak melihat satu-satu aktor di Headshot mana yang bagus mana yang tidak. Tetapi, saya cukup melihat ada kekakuan Very Tri Yulisman ketika berbicara dengan Iko. Kekakuan ini sebenarnya cukup mengganggu karena menurut saya dialog diantara keduanya bisa lebih menyentuh penonton. Tetapi kembali lagi, saya hanya seorang penonton yang sotoy tanpa ilmu khusus, jadi tontonlah sendiri supaya lebih yakin.

2. Scenes
Jujur, scene pembuka Headshot adalah salah satu scene yang paling saya suka di film action. Di awal film, MoBros sudah 'melegitimasi' kekuatan mr. Lee. Saya sempat melihat beberapa video reaksi terhadap trailer yang menontonkan adegan tembakan antara narapidana dan penjaga penjara dalam ruang sempit di awal film. Banyak yang sangat menyukai scene itu dan saya pribadi suka bagaimana scene itu memberi kekuatan pada mr. Lee. Tetapi, bagi anak sotoy seperti saya, kemampuan para penjaga penjara atau polisi itu sangat mengganggu. Tetapi di luar itu, salut dengan bagaimana scene itu dibuat. Secara keseluruhan, saya merasa nyaman dengan koreografi adegan fighting yang ada, meskipun sering mengingatkan saya pada The Raid (maaf, can't help it). Saya juga suka bagaimana MoBros menggambarkan scenes dengan dukungan setting yang tersedia. Lokasi Headshot ini tidak dijelaskan dimana, tapi MoBros berusaha memberikan sentuhan otentik di setiap scenesnya (misalnya di kantor polisi, pantai). Selain itu, saya sangat menghargai adanya unsur-unsur komedi baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Itu merupakan salah satu keunggulan lain dari film ini. 

Saya memiliki beberapa scenes favorit, (((Peringatan))) ini akan jadi sangat spoiler. Saya suka unsur slowmotion yang ditambahkan pada adegan Ishmael v. Garindra Bimo (maaf saya lupa namanya). Biarkan saya mendeskripsikan scene ini ke dalam bahasa yang sedikit politis. Saya suka unsur slow motion karena dari situ, saya dapat merasakan power yang dimiliki Ishmael kembali. Analoginya ketika seorang pemimpin dikudeta, kemudian ia mendapat tekanan dari AS untuk mengembalikan powernya, dan dengan cara kekerasanlah dia bisa. Ga nyambung? Ya maaf. Moving on, scene favorit saya selanjutnya adalah Ishmael v. Tejo Tano di kantor polisi. Saya cinta banget sama scene bayangan Tejo Tano. Sangat iconic menurut saya. Bayangan keduanya sangat meneror bagi saya. Meski banyak yang tertawa, menurut saya bayangan Tejo Tano dapat dikenang bagi orang yang menontonnya. Scene favorit saya yang terakhir adalah Ishmael v. Besi. Sejak Besi keluar di scene awal-pertengahan, saya tidak dapat berhenti memikirkan siapa sebenarnya dia di dunia nyata karena mukanya yang sangat familiar. Awalnya saya berpikir Tanta Ginting atau Volland, tapi 'ah bukan, kejauhan', pikir saya. Ingatan saya kembali ketika Ishmael dan Besi mulai adegan fightingnya di hutan. Ada satu momen dimana saya berpikir 'HOLY MOLLY MY BASEBALL BAT MAN'. Saya tidak paham mengapa saya sangat merasa ter-engage dengan scene ini. Sayangnya, seperti yang telah saya bilang sebelumnya, Very memainkan Besi dengan kaku. Selain itu, hubungan Ishmael dan Besi tidak terlalu ditonjolkan, entah karena disengaja atau tidak. Menurut radar kesotoyan saya, cerita mereka berdua akan jadi salah satu cerita yang menyentuh dan adegan di akhir hidup Besi bisa lebih bermakna. Jangan salah sangka, saya tidak meminta untuk menjelaskan semuanya, hanya interaksi keduanya yang dianggap sangat dekat. Scene terakhir yang akan saya bahas bukan jadi yang favorit tetapi saya perlu untuk menganggapinya: Ishmael v. Rika. Saya pikir scene ini akan semakin memberi unsur romantisme dalam film ini. Sayangnya, keduanya seperti tidak memiliki koneksi 'bersama'.

Ada satu hal yang cukup mengganggu dalam antar scenes yaitu kontinuitas. Dalam setiap film, secara naluriah saya cukup memperhatikan kontinuitas. Sayangnya, Headshot tampak kurang memperhatikan hal ini. Saya tidak terlalu hapal adegan mana yang kontinuitasnya terganggu. Tetapi, ada satu adegan di bus antara Ailin dan anak kecil yang tiba-tiba telah dipeluknya. Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan ini, tapi kontinuitasnya semakin terganggu di scenes setelahnya.

3. Karakter
Karakter di Headshot benar-benar ditonjolkan di setiap scene nya. mr. Lee sangat ikonik. Ia adalah kombinasi antara kasih sayang dan ambisi yang seharusnya tidak disatukan. Dari keempat anak buat mr. Lee, saya sangat menyukai Tejo Tano. Keduanya dianggap tidak realistis. Tetapi tanpa mereka, Headshot menjadi kehilangan dua komikal musuhnya. Karakter sangat diperhitungkan mulai dari yang minor sampai yang major. Karakter nelayan penyelamat Ishmael (lagi-lagi saya lupa namanya), dapat merangkul seluruh penonton untuk menunjukkan bahwa 'oh film ini ada manusia pada umumnya ya, bukan cuma manusia super macam Ishmael'. Saya juga suka dengan munculnya cameo-cameo dalam karakterisasi Headshot. Seluruhnya menurut saya sangat cocok dengan Headshot. Karakterisasi secara keseluruhan sebenarnya cukup janggal dengan tata bahasa 'elu gue'. Tapi kembali lagi, setting yang ditawarkan oleh MoBros tidak terlalu mendeklarasikan suatu kultur tententu.
Anyway, itu lah sekilas kesotoy-an saya mengenai Headshot. Overall, saya cukup suka dengan bagaimana film ini bercerita. Tetapi, satu hal yang saya mengerti dari Headshot, film ini layak untuk ditonton di bioskop dan bukan waste of money. Mohon maaf apabila kesotoy-an saya ini mengganggu banyak pihak.

Minggu, 24 April 2016

Review ala ala: JUARA ( spoiler)

Seperti yang telah terpapar dipostingan sebelum-sebelumnya, saya sering nonton bioskop terutama film Indonesia. Hari ini, saat saya  menulis ini, saya sedang berada di Lippo Plaza, menumpang listrik dan internet gratis, setelah  menonton bareng film Juara.

Sebelumnya, izinkan lah saya Riya'. Saya mengikuti nonton bareng yang juga sekaligus meet n greet dengan Bisma dan Cio. Dunia pernontonan film saya memang sering dimudahkan. Saya punya teman yang kenal dengan Bisma (mau disebut ga namanya, Mas? nanti saya edit wahaha), lalu saya mendapatkan tiket dan disamperin Bisma, kenalan bentar. But i don't think he still remembers me anyway haha. Tapi, perkenalan itu membuat saya (mungkin) menjadi Bismaniac. Karena, subhanallah teman-teman, dia lebih ganteng dari yang di tipi-tipi.. tapi, saya ingin mengakui satu penyesalan, saya tidak ngobrol dan foto bareng,,

 marilah kembali ke topik

Tapi, sebelumnya, pengetahuan saya mengenai film masih sangat cetek. Jadi, bacalah ini hanya sebagai gambaran umum.

Juara: Film Paket Komplit untuk Remaja
Dari judul awal, mengapa paket komplit? karena terdapat unsur drama, action dan komedi dalam film tersebut yang porsinya (menurut saya) sesuai dengan kalangan remaja. Saya akan membahas satu-satu:
a. drama
Unsur drama pasti ada di setiap film. Dalam hal ini, saya akan lebih membahas mengenai konflik yang tersedia. Sebenarnya, konflik di dalam film ini sangat sederhana dan dapat ditebak dari awal. Tapi somehow, konflik ini (mungkin dengan dukungan-dukungan unsur yang lain) bisa membuat kita tetap menonton dari awal sampai akhir meskipun kita bisa menebak akhirnya. Selain itu, pemain memerankan sangat cocok seperti Cut Mini dan Tora Sudiro. *sekilas curhat, saya sangat bahagia saat melihat Tora berperan serius, karena saya salah satu fansnya yang (1) rindu akan kehadirannya (2) ingin melihat kegantengan Tora serius yang sudah sejak lama hilang.* Unsur drama ini sangat menyentuh, entah saya yang memang baperan atau memang benar-benar menyentuh. Entah kenapa, saya selalu berkaca-kaca ketika melihat Tora dengan tatapan mautnya di frame. Ada satu scene yang tingkat keberkaca-kacaan mata saya sudah mencapai ujung, tapi saya masih kuat menahan cobaan ini. Disamping itu, dalam unsur ini, menurut saya revealing dari status Tora terlalu cepat. Saya pikir status Tora akan jadi plot twist yang signifikan dari film tersebut. Ternyata, statusnya hanya sebagai pendukung dari unsur action.

b. Action
Seperti yang terpampang di trailer, film ini mengandung action. Dengan kehadiran Cecep A. Rahman saja, saya pikir adegan-adegan action di film ini tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, semakin ditegaskan bahwa ini film action melalui pembukaan di medan pertarungan dan dieksekusi dengan baik. Saya jujur sangat suka dengan segala action yang terkandung di dalamnya. Peringatan saja, jangan samakan porsi action di film ini dengan The Raid ya, karena pasarnya sangat beda. Tapi eksekusi fightingnya sangat baik dan terlihat profesional. Bisma pun dapat menunjukan signature dari fightingnya dengan gerakan-gerakan yang biasa digunakan di breakdance (sotoy ah, Ta). Akan tetapi, menurut saya, scene fighting terakhir antara Bisma dan Cecep dapat dimaksimalkan lagi dengan menambah durasi. Menurut analisis kesotoyan saya, adegan fighting tersebut terlalu sebentar untuk dijadikan titik puncak film tersebut. 

c. Komedi
Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa akting Bisma bisa sangat natural terlebih di scene yang berbau komedi. Saya sangat terhibur dengan scene komedi yang disediakan, entah siapa yang menuliskan jokes-jokesnya. Saya melihat bahwa kehadiran Mo Sidik di film ini sangat membantu dalam unsur komedi ini. Dari awal juga, unsur komedi sudah ditekankan dan menurut saya well-played by Bisma, Cut Mini dan Mo Sidik. 

Karakter dan Pemain
Selain ketiga unsur tersebut, saya ingin membahas tentang karakter dan pemain. 

Dimulai dari karakter yang diperankan oleh Bisma. Selain pemainnya, saya pikir karakter seorang Bisma di film tersebut memang karakter yang akan dicintai oleh remaja. Dicatat ya, tidak hanya disukai tapi dicintai. Seperti pacar impian seluruh remaja wanita. Karakternya sangat unik, sehingga mudah diingat setiap aksi-aksinya.

Selanjutnya, karakter yang diperankan oleh Cut Mini. Somehow, sejak Arisan!, saya sangat suka dengan Cut Mini. Dalam film ini, meskipun di awal ia sangat cocok dengan komedi, tetapi ia dapat berperan secara maksimal dalam unsur dramanya. Ya terbukti lah, skill seorang Cut Mini yang memang luar biasa.

Seperti yang saya bilang, kehadiran Mo Sidik memang benar-benar mengangkat unsur komedi di dalam film ini. Menurut saya, sebenarnya karakter Mo Sidik dapat dengan mudah dihilangkan karena tidak memiliki kepentingan langsung dengan tokoh utama. Tapi apa yang terjadi kalau karakter tersebut dihilangkan? Tentu unsur komedi yang terkandung akan berkurang. Ini menurut kesotoyan saya ya.

Saya salah satu fans berat Tora Sudiro dari kecil, jadi pendapat ini akan sangat subjektif (padahal review ini juga sepertinya sangat subjektif). Tetapi, sungguh, Tora memang salah satu aktor yang menakjubkan (setidaknya di mata saya). Dia bisa menutupi perilakunya sehari-hari dengan karakter serius di film ini. Saya jatuh cinta.

Tokoh antagonis yang pertama terlihat diperankan oleh Ciccio Manassero (kalau typo, maafkan ya). Sebelum film ini, saya tidak pernah memperhatikan Ciccio, hanya sekilas saja di TV. Saya memang tidak tahu cara kemampuan akting seseorang dalam film, tapi saya cukup melihat Ciccio sesuai dengan karakter yang dimainkan

Dalam film remaja, biasanya ada konflik untuk merebutkan wanita, dan Dina Anjani lah wanita tersebut. Saya belum pernah mendengar namanya sebelumnya, tapi sepertinya pernah melihat wajahnya disuatu situasi. Anyway, saya sebenarnya bingung untuk memberi gambaran tentang dia. Tetapi, ketika saya menonton film ini, karakternya telah cukup baik dimainkan. 

Tokoh antagonis yang perannya cukup signifikan diperankan oleh Cecep A. Rahman. Karakternya sangat badass menurut saya. Jujur, saya suka akting Cecep dengan segala ke-badass-annya. 

Tokoh yang saya sangat suka adalah yang diperankan oleh Ronny P. Tjandra. Lagi-lagi, saya sangat subjektif karena saya sangat suka beliau dari kemunculannya di Omnibus 3SUM. Karakternya terlihat simple, tetapi the way he acts makes you adore him. Oh iya, kalau ada yang kenal, salam ya dari saya, haha.

Overall, saya sangat merekomendasi kalian menonton film ini. Film ini sangat menghibur dan salah satu film yang memang pantas ditonton oleh remaja. Saya merasa film-film remaja Indonesia sangat monoton akhir-akhir ini, tapi Juara menawarkan sesuatu yang baru pada remaja Indonesia.

Rabu, 13 April 2016

Thank You Notes for The Temper Trap

Music is one of the biggest influence in my life beside film and cooking (food). Even, music is the first escaping place for me. One of the most influential music for me is The Temper Trap.

Why The Temper Trap?
The first meeting between me and TTT was on a car's commercial. I was in junior high school when i heard this gentle and fine tune that stayed in my head for weeks. This commercial was using TTT's Sweet Disposition which was their most phenomenal song that year. I didn't know about that until one day, my best buddy, Chacha (also who was the true hero for introducing me to Panic! At The Disco) told me that there was an international band with indonesian as the frontman. It's very common after hearing that, my nationalism increased somehow. I think that's how nationalism in Indonesia works. It only increases when we got Indonesian popular in overseas or a common enemy. Anyway, as an Indonesian, I was so excited as my nationalism also increasing. And then I was getting to know TTT better, and fell in love with Dougy Mandagi. But later on, I change my 'senpai' into Joseph Greer. Why? I don't know, just a true love maybe. hahaha

First Meeting with The Temper Trap
On 2013, not long after I got drunk from TTT's songs, they were coming to Indonesia (Big Sound Fest) with Blur as the main guest. I was so excited and worried that I would lose that opportunity. So, in a bright day at school, in class, I borrowed someone's laptop to buy ticket on the first day! After I ordered, I just realized that I didn't have money. And yeah, I was that dumb. So, I began to call my dad and beg him. Thankfully, my dad was so supportive of whatever I wanted (to be). So, he bought me the ticket. And I was so lucky that my friend got an opportunity to meet them and I was allowed to meet them too. They were so kind and kind and kind and sooo kind. That day, I began to think that I'm gonna get all my dreams (film, food, music) and something big was coming for me.

Thank You Notes for The Temper Trap
Yeah, something big was coming for me. But not a good one. On June (a month after that), I got a major accident that made my right hand paralyzed. They said it could be recovered, but even until now, after 3 years, I'm not sure that it would work again. Anyway, the first 3 months was the hardest time in my life. I couldn't do anything, even it's hard for me to sit properly. I began desperate and crying every night. I forgot everything that I liked: film, food and music. I was so desperate until one day I opened my closet and found the t-shirt that I made. It was signed by The Temper Trap's members and Toby wrote like "amazing t-shirt, natasha!" on it. By seeing that, reminded me of The Temper Trap. I'm not trying to be dramatic, but their songs (somehow) boosted up my confidence and spirit. Almost all of their songs made me like want to punch an elephant. I like all their songs, especially Soldier On, Fools, Fader, Trembling Hands, Science of Fear, Sweet Disposition, Need Your Love, Miracle, Rabbit Hole, The Sea Is Calling, London's Burning, Rest, Leaving Heartbreak Hotel, My Sun, Resurrection etc. Almost every songs basically. Their genre also brought me to Twenty One Pilots, Miike Snow, Oh Wonder, AURORA, Foals and those kind of music. 
So, if someone who is related to The Temper Trap read this, man, please say thank you to them for me. Not only for boosting my confidence up, but  also introducing me to some good music. Tell them to keep making good music and inspiring other people (like me maybe?) because their songs are miracles. Also, good luck for their new album. I'm gonna find a way to buy it.

Their Comeback! 
As I said, TTT is coming back to Indonesia on August. I'm gonna be insane if I don't get to see their performance. There is one insecurity: that I would be discriminated at that festival. I know I sound ridiculous, but we don't know what could happen. But nothing can change my mind. Beside, I got plenty of back ups (my one and only Kak Antie, a mentor in fangirling world, also mother of one and other fangirling mates) that I'm sure would declare a war if I don't get a chance to see TTT and the Festival! (Kepedean abis) 

See you on August (for whoever read this and going to WTF!)

Kamis, 07 April 2016

Pejuang Nonton Mandiri v. Jomblo?

Selamat siang-pagi-sore-malam saat anda membaca ini. Bagaimana kabar anda? semoga kita semua diberi kekuatan dalam menjalani hidup ini.
Pertama-tama, jika (ada) yang bertanya mengapa membuat postingan blog ini? Saya termotivasi untuk menulisnya karena tadi sore, ketika saya bilang ke teman-teman saya bahwa saya ingin menonton 10 Cloverfield Lane, reaksi mereka hampir sama: "Kamu nonton sendiri???!!!". Saya sebenarnya cukup heran mengapa mereka (selalu) bertanya seperti itu. 

Saya sudah menjalani rutinitas tersebut (yang sekarang sudah tidak rutin) selama bertahun-tahun, sejak saya duduk di bangku SMA. Waktu itu lah di saat saya mulai mencintai film dan ingin mengapresiasinya sebaik mungkin. Salah satu bentuknya adalah dengan cara menontonnya di bioskop. Karena saking selonya saya dulu waktu SMA dan lagi cinta-cintanya sama film, hampir setiap minggu saya menyematkan waktu saya untuk ke bioskop. Untuk anak SMA, ke bioskop sesering itu adalah pemborosan uang jajan yang luar biasa. Jadi, saya mulai minta ditemani teman saya dengan iming-iming tiket mereka saya yang bayar.

Suatu ketika, krisis itu datang menerpa. uang jajan saya mulai menipis dan waktu ujian segera tiba. Dasar saya anak terlalu selo, saya terus menonton hingga tidak ada yang mau mengorbankan waktu belajar akademiknya demi menonton film di bioskop. Saya lupa film apa yang saya tonton pertama kali di bioskop sendiri, tapi film itu saya anggap sangat urgent untuk ditonton. Jadi, saya melangkahkan kaki saya ke Ambarrukmo Plaza dan membeli tiket film Indonesia yang saya ingin tonton pada saat itu. Perasaan saya pada saat itu adalah "It was not that bad". Kenapa orang-orang jarang melakukan itu??

Jujur, tradisi nonton bersama memang seru. Akan tetapi, ada keuntungan-keuntungan tersendiri saat kamu nonton sendiri, 
1. Kamu bisa khusyuk menonton film: karena kamu sendiri, tidak ada orang yang dapat diajak bicara atau mengajak bicara kamu (kecuali kamu sksd atau kamu disksdin)
2. Mungkin kamu bertemu jodoh: ketika kamu beli tiket dan melihat kursi terisi sendirian, duduk lah di sebelahnya. Kalau sedang beruntung, kamu mungkin bertemu jodohmu. Kalau kamu sedang apes, mungkin kamu bertemu saya....
3. Kamu tidak akan di-php-in: jujur saja teman-teman, kegiatan yang dilaksanakan bersama-sama itu rawan sekali akan wacana. Begitu pula dengan menonton. Jadi, supaya kamu tidak di-php-in dan terus menunda-nunda, nonton sendiri adalah alternatif terbaik
4. Kamu akan dikira penikmat film sejati: pencitraan itu cukup penting, teman-teman.. anaknya presiden aja juga pernah ngomongin tentang pencitraan.. (maaf ga nyambung, maaf ya Kaesang)

Setiap hal pasti ada plus-minusnya. Selain keuntungan, ada kerugian juga, misalnya:
1. Kamu dikira jomblo: meskipun kamu jomblo atau tidak, pemikiran manusia-manusia sekarang adalah jika kamu pergi sendiri, makan sendiri atau nonton sendiri, kamu secara implisit mendeklarasikan diri sebagai jomblo
2. Kamu mendapat tatapan kosong dari mbak-mbak XXI: hal ini sering terjadi, terlebih lagi ketika saya sedang nonton marathon. Mbak-mbak XXI tersebut seolah sedang melihat kekosongan di diri saya
3. Kamu akan sering kali merasa canggung: hal ini terjadi pada saya ketika saya menonton A Copy of My Mind karya Joko Anwar. Film itu memang penuh dengan romansa. Dan saya tepat berada di tengah-tengah dua pasangan yang menikmati film tersebut. Saya merasa hina

Terlepas dari hal tersebut, saya tetap akan menjalankan ritual saya yaitu menonton sendiri karena saya merasa lebih nyaman dengan hal itu. Selain itu, saya pernah merasakan kerugian yang sangat mendalam akibat tidak menonton sendiri: melewatkan AZRAX. Seperti yang diketahui oleh dunia maya ini, AZRAX merupakan film yang sangat fenomenal dan awal kemunculan film cult Indonesia. Dengan budget 5M dan film dengan efek tulisan 3D yang sekontroversial itu, rasanya melewatkannya adalah penyesalan terbesar dalam hidup  saya. Tetapi, pilihan tergantung pada masing-masing individu. Mungkin saya hanya terlalu introvert untuk (sering) menonton bareng di bioskop.


Kamis, 21 Januari 2016

(OPINI) Trotoar Indonesia: Ruang Kegelisahan Pejalan Kaki

Baru-baru ini saya suka berjalan kaki untuk pergi ke tempat yang sekiranya masih dapat dicapai. Alasan pertama tidak lain karena faktor ekonomi yaitu penghematan. Keadaan saya yang tidak dapat mengendarai kendaraan apapun dan tidak memiliki seseorang untuk mengantar jemput memaksa saya untuk selalu menggunakan jasa ojek baik online maupun tidak. Uang jajan saya pun lebih dari setengahnya hanya dihabiskan untuk ojek. Maka, saya memutuskan untuk memulai penghematan tersebut. Selain itu juga alasan kesehatan. Dikarenakan salah satu saraf pernapasan saya dikorbankan saat operasi, membuat saya harus berolahraga untuk mengembalikan kemampuan bernapas saya seperti semula. Saya memilih berjalan karena sangat mudah dilakukan dan tidak membutuhkan usaha berlebih bagi keterbatasan saya.

Saya memilih untuk berjalan dari kampus saya menuju tempat saya terapi di RS Bethesda Yogyakarta. Rute yang saya ambil berawal dari kampus saya (melewati perpustakaan UGM)- bundaran UGM- SMP N 1- Gramedia- RS Bethesda. Sesungguhnya saya kurang tahu berapa km kah jarak yang ditempuh. Tetapi, apabila saya menggunakan ojek 86, tarif normalnya Rp 10.000 dan ia mencatok harga Rp 2/meter. Jadi bisa kita simpulkan saja jaraknya 1 km.

Sebenarnya, jalan yang ditempuh sangatlah mudah. Hanya tinggal lurus lalu apabila bertemu perempatan Gramedia, belok ke kiri. Namun, di Indonesia tidak ada hal yang mudah bahkan untuk berjalan di trotoar. Saya dapat ibaratkan berjalan di trotoar Indonesia (setidaknya yang pernah saya alami) seperti mengikuti Ninja Warrior, penuh rintangan. Terkadang jalanannya miring, tidak rata, atau bahkan kita harus memanjat. Sampai-sampai saya berpikir mungkin kompetisi Ninja Warrior dapat diadakan di trotoar Indonesia secara alami. Rintangan apa saja yang dimaksud? Berdasarkan pengalaman saya kemarin, rintangan tersebut ada warung/pedagang kaki lima, perilaku pengguna kendaraan bermotor dan bahkan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Warung/Pedagang Kaki Lima
Di jalanan yang saya biasa lewati, banyak tersebar warung/pedagang kaki lima di trotoar. Saya sangat menghargai kehadiran pengusaha-pengusaha independen Indonesia melalui warung/pedagang kaki lima yang tersebar di seluruh trotoar Indonesia. Dan saya juga paham bagaimana jasa mereka untuk menyelamatkan dompet-dompet para mahasiswa (termasuk saya). Akan tetapi, terkadang kehadiran mereka merupakan salah satu rintangan ala Ninja Warrior bagi pejalan kaki terlebih ketika mereka mendirikan warung mereka di sore hari. Saya pernah melewati salah satu warung yang baru didirikan oleh para penjualnya dan kaki saya hampir kejatuhan salah satu besi penyangga. Untungnya, saya sering menonton Ninja Warrior sehingga saya dengan cepat dapat mencegahnya jatuh. Dan untungnya pula, mas-mas penjualnya baik dan cekatan sehingga ia pun dengan tangkas membantu saya menghindari besi itu. Dibalik itu semua, sesungguhnya saya tidak menginginkan kehadiran mereka dihapuskan dari trotoar Indonesia. Saya menganggap kehadiran mereka merupakan salah satu ciri khas yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, mungkin kehadiran mereka dapat lebih diatur lagi di trotoar seperti diberi batasan cakupan wilayah sehingga tidak seluruh bagian trotoar dimiliki oleh warung/pedagang kaki lima dan pejalan kaki dapat diberikan ruang untuk berjalan.

Perilaku Pengguna Kendaraan Bermotor
Bukan sesuatu hal yang aneh lagi apabila para pengguna kendaraan bermotor sering memarkirkan kendaraannya di trotoar. Sering kali pula kita dihadapkan pada ruang-ruang sempit diantara kendaraan-kendaraan yang terparkir tersebut dan memaksa kita untuk melewatinya seperti wanita-wanita WRP melewati kursi. Sayangnya, dapat dipahami bahwa tidak semua pejalan kaki pinggangnya sekecil itu. Hal ini tentunya sangat mengganggu kekhusyukan para pejalan kaki dalam menikmati perjalanan yang indah. Selain itu, sering kali motor menyerobot masuk ke trotoar dan hampir menyerempet pejalan kaki. Tetapi, perilaku pengguna kendaraan bermotor tidak selesai sampai disitu. Banyak pengguna (dari pengamatan saya) yang tidak sadar diri di kala hujan. Jalanan di Indonesia banyak yang tidak rata dan menciptakan kubangan air di pinggir jalan. Tetapi, sering kali motor/mobil tidak memperlambat jalannya ketika melewati kubangan tersebut. Berdasarkan hukum gaya (mungkin, i'm really bad at physics), tekanan dari atas tersebut membuat cipratan-cipratan indah ke sekitarnya. Bayangkan apabila ada pejalan kaki yang berada di sampingnya persis. Sejujurnya, saya dulu pernah mengalami hal tersebut ketika saya dibonceng menggunakan motor. Cipratan tersebut bukan hanya cipratan kecil teman-teman, tetapi ke seluruh badan. Maka, saya menobatkan perilaku tersebut sebagai perilaku (maaf) terbejat oleh pengguna kendaraan bermotor. 

Fasilitas Yang Disediakan Pemerintah
Di Yogyakarta, terdapat halte-halte bus Trans yang menutupi trotoar. Atau tidak ditutupi semuanya dan (lagi-lagi) memaksa pejalan kaki untuk mengikuti perilaku wanita-wanita WRP dengan melewati ruang sempit di belakang halte. Selain itu, uniknya terdapat pohon-pohon atau tanaman lainnya yang ditanam tepat di tengah trotoar. Saya paham bahwa pemerintah ingin membuat suatu ruang hijau di trotoar Indonesia, tetapi pertanyaan saya adalah harus di tengah banget pohonnya? Ada dua hal yang saya khawatirkan atas fasilitas pemerintah tersebut yaitu akses teman-teman kita yang menggunakan kursi roda dan teman-teman kita yang tuna netra. Jelas sekali dapat  dilihat lebar trotoar yang disediakan dengan penghalangan dari halte bus Trans maupun pohon sangat mengurangi akses teman-teman pengguna kursi roda. Bayangkan saja, saya yang berjalan saja harus berusaha sekuat tenaga melewati trotoar yang dihalangi halte bus Trans dan dengan ala-ala wanita WRP. Kalau sial, masih harus melewati motor penjaga halte bus Trans yang juga diparkir di belakang halte. Selain itu, bagi teman-teman kita yang tuna netra juga kesulitan untuk melewati trotoar. Di trotoar Indonesia sebenarnya sudah disediakan jalur penanda trotoar bagi para tuna netra yang berupa bulatan-bulatan menonjol. Akan tetapi jalur ini sering kali menabrak atau putus di tengah pohon yang berada tepat di tengah trotoar ataupun terhalang halte bus Trans. Hal ini tentunya sangat membatasi akses para pejalan kaki terlebih yang menggunakan kursi roda atau pun tuna netra.

Saya disini hanya menyampaikan pengamatan saya selama saya mencoba menjadi pejalan kaki di Indonesia. Apabila pemerintah mengharapkan warganya untuk berjalan kaki dan meninggalkan kendaraan pribadi, mungkin hal-hal yang saya sampaikan bisa dikonsiderasikan keberadaannya. Dan semoga para pejalan kaki di Indonesia senantiasa diberi kemudahan.

Sabtu, 16 Januari 2016

Jurnal Fangirling: Fedi Nuril akhirnya menikah!

Awal 2016 ini, kehidupan fangirling saya sedang berduka akibat pernikahan 2 orang yang sangat berpengaruh pada kehidupan fangirling saya. Pertama, ia bukan seorang public figure sehingga keberadaannya mungkin tidak begitu signifikan di masyarakat pada umumnya, pun keberadaannya sangat signifikan di hati saya. Akan tetapi, saya tidak akan membahas orang tersebut. Yang akan saya bahas adalah Fedi Nuril. Yang tepat ketika saya menuliskan ini, yaitu 17 Januari 2016 menikah dengan wanita yang disebut-sebut berasal dari kota yang sama dengan saya, yaitu Yogyakarta. Terdapat kebanggaan tersendiri ketika saya menuliskan kalimat tadi, tapi ya sudahlah...

Saya hari ini sengaja tidak menyalakan TV agar tidak melihat berita infotainment. Niatnya sih supaya hati fangirling saya yang rapuh ini tidak menjadi semakin rapuh dengan berita mengejutkan tersebut. Nampaknya dewi fortuna juga sedang bersama dengan saya karena saat saya menuliskan ini saya sedang dalam perjalanan ke Semarang. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir kegundahan hati fangirl saya.



Mengapa Fedi Nuril?

Jujur, kalau saja di malam yang sepi itu ia tidak berada di mimpi saya secara gerilya, mungkin keadaan hati saya menyikapi pernikahan hari ini akan baik-baik saja atau malah cenderung tidak peduli. Malam itu, saya berada di RS Premier Bintaro yaitu tempat dimana saya melakukan operasi demi kesehatan jasmani saya. Operasi tersebut memakan waktu 11 jam dan mengakibatkan 1 malam saya diinapkan di ruangan semacam ICU. 

Mungkin akibat lelah atau tertular sindrom ketemu artis yang ditularkan oleh suster ICU yang sangat excited melihat Once menjenguk seseorang (bukan saya tentunya) di ICU, malam setelah saya dipindahkan di kamar biasa, saya langsung mimpi mengenai artis. Dan somehow, itu Fedi Nuril. Sebelumnya, saya tidak memiliki ketertarikan khusus dengan salah satu pria ideal itu. Di saat teman-teman saya membicarakan tentangnya, saya sebagai anak (yang ingin dipanggil) hipster memilih pria yang lebih artsy untuk difangirl-in. Sebut saja Dougy Mandagi (The Temper Trap) ataupun Donny Alamsyah di video klip Andra and The Backbone yang hitamku dengan rambut gondrong basahnya. Akibat Fedi Nuril, saya menjadi fangirl untuk pria setipe dengannya seperti Marshall Sastra. Jadi, Fedi Nuril sebenarnya merupakan titik tolak selera atau bahkan kehidupan fangirling saya. 

Jangan bicarakan bagaimana mimpinya ya. Hingga sekarang, saya sangat malu untuk menceritakannya secara langsung. Meskipun begitu, mimpi tersebut sungguh sangat epik dan mengandung unsur horor serta memasukan salah satu teman saya dan motornya. Padahal sebelumnya saya belum pernah melihat motornya, tetapi ketika saya cerita mengenai mimpi saya ke teman saya yang lain, ciri-cirinya sama. Apakah ini salah satu pertanda bahwa saya memiliki indra keenam seperti yang dimiliki Joshua Suherman masa kecil di sinetronnya? Semoga saja tidak ya.

Surat (Agak) Terbuka Untuk Fedi Nuril

Kepada Fedi Nuril yang telah menikah seiring dengan dipublikasikannya tulisan ini,

Mungkin anda bertanya-tanya, ini manusia macam apa yang mau mempertaruhkan citranya dengan menulis surat yang sebenarnya tidak penting bagi nusa dan bangsa. Di saat teman mahasiswa saya berbondong-bondong menulis surat terbuka pada pejabat dengan mengutarakan kegelisahannya dan bahkan ada salah satu teman saya yang mengirimkan surat terbuka pada Ibunya untuk mengkritisi sistem keuangan perkuliahan, saya malah repot-repot mencemari hari paling bahagia anda dengan tulisan ini. Akan tetapi, itulah sebenarnya esensi fangirling. Kami tahu bahwa hal ini tidak penting untuk dilakukan dan tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupannya, but we'll do it anyway. 

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya. Gimana pernikahannya? Ramai lancar? Tidak ada tamu yang secara mengejutkan muncul padahal tidak diundang kan? Saya hanya khawatir saja mengingat undangan tersebut tersebar secara viral. Well, semoga pernikahannya sakinah mawadah warramah ya. 

Apa yang membuat saya tergerak untuk menuliskan (surat) ini untuk anda adalah karena saya cukup terkejut dengan pernikahan yang ada tanpa berdamai dengan hati fangirl saya dahulu. Akan tetapi, siapalah saya ini, hanya seonggok daging yang terpesona akan kharismamu di mimpi yang bahkan belum menonton salah satu film terlarismu yaitu Surga yang Tak Dirindukan (saya akan beli DVD originalnya secepatnya kok!). Maaf kalau misalnya tulisan ini sangat mencampuri kehidupan pribadi anda, hal ini sudah seperti naluri fangirl yang saya miliki. 

Tentu di dalam hati seorang fangirl seperti saya ada kekecewaan ketika berita pernikahan itu tersebar. Di lingkungan pertemanan perkuliahan saya saja banyak yang sanubarinya terguncang mendengar berita tersebut. Tetapi tenang saja, hal itu tidak hanya terjadi pada anda. Saya yakin, itu juga terjadi pada hampir seluruh pria Indonesia ketika mendengar Dian Sastro menikah beberapa tahun lalu. Mungkin untuk beberapa saat, kami akan sedikit terguncang. Tetapi saya sebenarnya juga cukup bahagia mendengar anda akhirnya menikah juga. Sebagai pria yang sudah cukup matang, memang jauh lebih baik untuk menikah sekarang sebelum negara api menyerang.

Terlepas dari berbagai hal tersebut, saya salut dengan kemahiran anda untuk menyembunyikan hubungan yang sakral ini. Yang saya dengar, anda telah menyembunyikan ini dari tahun 2013? Subhanallah, saya bahkan susah untuk tidak menceritakan hal yang tidak penting seperti mimpi saya sehari saja kepada teman saya. Sungguh, saya salut.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan merasa terbebani dan terganggu akan kehadiran fangirl anda di luar sana (termasuk saya). Sesungguhnya, kami diciptakan untuk menyajikan hiburan pada anda secara viral. Bisa dilihat melalui komentar-komentar lucu yang selalu dihadirkan oleh kami di Instagram yang dipenuhi foto-foto mempesona anda atau mungkin surat (agak) terbuka ini bisa jadi salah satu alternatif hiburan anda (semoga dibaca dan tidak menyinggung). 

Last but not least Fedi, kami sebagai fangirl anda akan selalu mengagumi anda tanpa melihat statusmu sebagai lajang, suami atau pun  ayah (seperti film mu yang baru) tanpa bermaksud merusak kehidupan pribadi anda. Dan jangan salah artikan afeksi kami terhadap anda (maupun keluarga anda). Semoga kehidupan anda bersama istri selalu diberkahi tanpa henti. 

Tertanda, Fangirl mu angkatan 2015 (bulan Agustus tepatnya) yang tidak terdaftar dalam fansclub

Surat kepada Sang Istri
Teruntuk istri seorang Fedi Nuril,

Hai, salam kenal. Saya takut salah memanggil nama anda karena saya belum tahu anda biasa dipanggil apa, tetapi saya dengar anda berasal dari Yogyakarta? Kalau begitu, kita berasal dari tempat yang sama. Pernikahan ini juga membuat saya merasa cukup bangga  dengan segenap semangat primordial, ada seorang Yogyakarta yang menikahi Fedi Nuril.

Saya sebagai fangirl Fedi Nuril ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi anda dan Fedi. Saya tahu pasti akan berat bagi anda untuk mendengar berita atau pun kata-kata yang tidak menyenangkan dari fangirl yang masih terpukul dengan berita pernikahan ini. Tetapi dibalik itu semua, pasti ada fangirl yang senantiasa membantu anda dalam mengatasi hal tersebut. Tapi kalau tidak ada kata-kata negatif, ya alhamdulillah berarti hidup anda dan suami sangat diberkahi dan saya turut senang mendengarnya.

Anyway, semoga anda tidak menganggap surat ini sebagai sesuatu yang offensive dan menganggapnya sebagai hiburan. Saya tidak pernah bermaksud menyakiti hati anda. Dan saya sangat menghargai Fedi Nuril dan ada sebagai manusia yang memiliki ruang privasi. Saya hanya berusaha untuk mencurahkan keterkejutan saya dilihat dari perspektif seorang fangirl. 

Sekali lagi, semoga kehidupan berumah tangga anda dan Fedi selalu diberkahi dan tidak pernah henti-hentinya diberikan kemudahan. Terima kasih

Tertanda, seorang fangirl dari suami anda yang tak perlu anda khawatirkan keberadaannya


Transformasi: Tulisan, Pikiran dan Kehidupan

Hello, it's been awhile since i wrote my last post.

 Saya hanya akan memberitahukan bahwa akan terjadi perubahan dalam cara saya menulis. Dimulai dari yang paling sederhana: penggunaan kata 'gue'yang diubah menjadi 'saya'. Bukan bermaksud untuk menjadi sok atau gimana, tapi saya merasa 'gue' sudah tidak cocok lagi. Mungkin karena saya mulai terbiasa menggunakan bahasa baku dalam perkuliahan (ceilah!). Tapi saya harapkan jangan jadi spaneng ya...

Konten dari blog ini ga akan saya ubah. Masih tentang kehidupan (yang sebagian hina) saya. Saya sebenarnya ingin sekali terlihat akademis seperti teman-teman saya yang memiliki tulisan akademis. Tetapi, apa daya di saat teman-teman saya membaca Washington Post, saya masih sibuk membaca kapanlagi.com. Atau, ketika mereka menonton analisis ekonomi di Kompas TV, saya masih mantengin Insert siang dengan rasa penasaran kelanjutan curhatan Mulan Jameela di YouTube. Maaf terkesan promosi (toh yang baca dikit ini) Meskipun terdapat perubahan, saya memilih untuk tidak menghapus postingan blog saya sebelum ini. Kenapa? Bukankah itu berarti melanggengkan aib? well, itu memang aib. Tapi saya percaya, suatu kenangan butuh disimpan dengan baik, dipelajari dengan seksama sembari berjalan ke tingkatan kehidupan kedepannya. Ya, dan itu termasuk kealayan.  


Anyway 



 A lot of things happenned to me since 2013. When i said a lot, i mean A LOT! 2013 merupakan tahun yang jujur aja berat bagi saya. Ketika saya sudah memiliki rancangan indah akan kehidupan saya, tiba-tiba kecelakaan itu terjadi. Saya sekarang dapat dikatakan lumpuh di tangan sebelah kanan. Apakah itu suatu pukulan? Jelas. Kelumpuhan ini menghancurkan rencana saya, segalanya.


 Saya memiliki rencana untuk menjadi fotografer profesional yang akhirnya saya hapus karena saya menjual kamera dslr yang saya dapat dari orang yang baik hati. Saya sempat mencoba untuk berlatih menggunakan kamera tersebut,tetapi saya frustasi. Selain itu, impian saya sekolah di Australia dengan jurusan perfilman juga harus tertunda. Saya seharusnya lulus SMA menyusul mama saya di sana, tetapi nampaknya akan lebih susah untuk saya maupun mama saya untuk hidup di sana dengan kondisi tangan saya yang seperti ini. Kenapa saya bilang tertunda? Karena setelah saya lulus (saya sekarang kuliah di Jurusan HI), saya berencana untuk kuliah perfilman. Banyak yang bilang 'kamu ga takut boros umur?', selama itu mendekatkan saya pada impian saya (termasuk bertemu Abimana Aryasatya) saya akan terus berusaha untuk mengejarnya. Jadi, doakan ya!!

 Yang terakhir dan paling besar adalah lepas dari belenggu ayah saya. Jangan artikan secara harfiah ataupun negatif akan kata 'belenggu'. Ayah saya baik, dan termasuk bukan ayah yang otoriter. Bahkan, hampir semua kebutuhan materiil dipenuhi olehnya. Tetapi, saya merasa ada belenggu diantara kita. Sewajarnya orang tua, ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi sayangnnya, saya terlalu keras kepala dengan apa yang saya inginkan. Misalnya, ketika pemilihan jurusan kuliah. Ayah saya membebaskan saya untuk memilih jurusan yang saya inginkan. Saya memilih Sastra Indonesia tetapi ayah saya melihat bahwa hal tersebut kurang cocok dengan kemampuan saya dan alhasil memilih jurusan HI sebagai hasil akhir. Selain itu, saya juga merasa terbebani dalam mengambil setiap keputusan yang saya buat. Ketika saya ditanggung oleh ayah saya, saya merasa bahwa setiap keputusan yang diambil oleh saya harus membahagiakan dan tidak boleh mengecewakannya. Ya, mungkin saya terkesan tidak pandai bersyukur (mungkin memang tidak). Saya akan berusaha memperbaiki hal tersebut.

Dibalik kelumpuhan ini, saya ternyata juga mendapatkan dampak positif kok. Dampak-dampak tersebut akan saya utarakan dipost selanjutnya (hopefully, kalo ga mager). 

 Itu aja sih yang ingin saya kabarkan pada anda sekalian. Maaf apabila ada yang menyinggung anda maupun siapapun yang anda sayangi. Silakan ditunggu postingan lainnya ya!

Selasa, 18 September 2012

'Dunia' Baru

Pernah ngerasain ada di dalam sebuah film waktu nonton film? baik di layar kaca, bioskop maupun komputer? Kalau saya sih jawabannya Sering.

Yak, film. Film itu bagi gue semacam kesenian yang komplit dan praktis. Komplit, semua unsur dari musik, visual dan alur cerita ada di dalam suatu film. Praktisnya, film bisa dibawa dan ditonton dimana saja. Sekarang, berbekal komputer, kita udah bisa nonton film.

Film itu bisa jadi 'Dunia' Baru bagi orang-orang kesepian, bukan secara fisik loh ya, kita lebih semacam merasa kesepian diantara keramaian manusia (jadi curhat). Kalau gue sendiri, pada waktu nonton film action, gue sering ngerasain gue ada di dalam film itu. Bukan sebagai orang ketiga, yang cuma diam dan ngeliatin si tokoh main. Gue lebih ngerasa sebagai salah satu saksi dan partisipan yang dapat membuat kejadian/scene itu terjadi.

Gue juga sering ngerasa asing setelah selesai nonton film. I feel like i don't belong to this thing what you call 'reality'. I belong to a huge world what you call 'movie'. Gue selalu merasa 'kosong' setelah nonton film, apalagi film yang penuh dengan fantasi (setidaknya itu anggapan lo tentang film superhero).

Pada saat gue nonton film, gue lebih memposisikan diri gue ada dalam film itu, meskipun gue terkadang suka mengamati efek dan lain-lain dari film tersebut. However, Let's enjoy what the crews have made for us. We pay for the movie, we feel the movie.

Feel free to live in the movie

Sabtu, 24 Desember 2011

RULES OF LIFE


1. Make peace with your past, so it doesn't spoil your present!
2. What others think of you, is none of your business
3. Time heals almost everything, give time, to do its job!
4. No one is the reason for your happiness, except yourself
5. Don't compare your life with other's you have no idea what their journey is all about
6. Stop thinking too much, it's alright not to know all the answer

Kamis, 08 Desember 2011

Lesson of the day

The difference between true education and vocational training has been cleverly blurred.
The first principle of people control is not to let them know you are controlling them. If people knew, this knowledge will breed resentment and possibly rebellion, which would then require brute force and terror, and old fashioned, expensive and not 100 % certain method of control.
It is easier than you think to control people indirectly, to manipulate them into thinking what you want them to think and doing what you want them to do.

One basic technique is to keep them ignorant. Educated people are not as easy to manipulate. Abolishing public education or restricting access to education would be the direct approach. That would spill the beans.
indirect approach is to control the education they receive.
It's possible to be a Ph.D., doctor, lawyer, businessman, journalist, or an accountant, just to name a few examples, and at the same time be an uneducated person. The difference between true education and vocational training has been cleverly blurred in our time so that we have people successfully practicing their vocations while at the same time being totally ignorant of the larger issues of the world in which they live.

The most obvious symptom is their absence of original thought. Ask them a question and they will end up reciting what someone else thinks or thought the answer was. What do they think, Well, they never thought about it. Their education consisted of learning how to use the library and cite sources.
That greatly simplifies things for the controller because with lots of money, university endowments, foundations, grants, and ownership of media, it is relatively easy to control who they will think of as authorities to cite in lieu of doing their own thinking.

Another technique is to keep them entertained. Roman emperors did not stage circuses and gladiator contests because they didn't have television. We have television because we don't have circuses and gladiator events. Either way, the purpose is to keep the people's minds focused on entertainment, sports, and peripheral political issues. This way you won't have to worry that they will ever figure out the real issues that allow you to control them.

Just as a truly educated person is difficult to control, so too is an economically independent person. Therefore, you want to create conditions that will produce people who work for wages, since wage earners have little control over their economic destiny. You'll also want to control the monetary, credit, and banking systems. This will allow you to inflate the currency and make it next to impossible for wage earners to accumulate capital. You can also cause periodic deflation to collapse the family businesses, family farms, and entrepreneurs, including independent community banks.

im saying the elites of society the high earners leeches the rich the politions do not have your interests at heart.
so free yourself from a dependance to an inflatable megear cash income after securing a place to live and grow food and or raise lifestock
because otherwise you will findyourself stuck with a brand and not enough stuff at hand


source: the person who always makes me smile

Sabtu, 19 November 2011

The Fray - You Found Me

Hey, Jadi kali ini bukan 'membahas' sih, lebih kayak ngasih tau salah satu lagu yang *cukup* menyentuh. Bukan tentang percintaan, tapi lebih ke-Ketuhanan.

Lagunya berjudul You Found Me dari The Fray. Lagu ini sih sebenernya cukup simple untuk temanya. Tentang kegalauan seseorang akan ada atau tidaknya tuhan sebenarnya.

well, just check this out

Jumat, 18 November 2011

SAVE ORANGUTAN!

hey, i'm back! well, postingan kali ini gue akan cerita tentang SAVE ORANGUTAN!

Seperti yang kita ketahui, orangutan adalah spesies yang sekarang sudah langka. Indonesia punya spesies itu. Kita patut bangga akan hal itu. Sayangnya, kita kurang memperhatikan spesies indah dari negeri kita itu.

Gue tadi sempat nonton BBC Knowledge, dan ada acara tentang orangutan. Acara tersebut membahas tentang upaya upaya perlindungan orangutan di Kalimantan. Dan gue sangat tersentuh banget oleh tindakan seorang bule yang bernama Chanee yang berjuang untuk menyelamatkan orangutan. Sebenarnya bukan cuma orangutan saja yang dia selamatkan, tapi juga proboscis monkey dan hewan hewan eksotik lainnya.

Chanee ini membantu menyelamatkan primata primata yang eksotik ini melalui siaran radio. Didalam siarannya, pasti terselip satu iklan yang berisi bahwa kalo ada pendengarnya yang punya informasi tentang primata primata yang tersiksa atau luka dan semacamnya ini, diharapkan menghubungi radio tersebut.

Sekarang, Chanee dan timnya sudah mempunyai sejenis 'penangkaran' untuk binatang langka tersebut. 60% binatang-binatang tersebut berasal dari laporan para pendengar radionya. Didalam penangkaran tersebut, hewan hewan eksotis itu akan di check tentang kesehatannya dan lain lain. Hingga, pada waktunya, mereka akan di lepaskan ke alam bebas. Hal ini dimaksudkan agar tujuan Chanee dan timnya ini tidak menyimpang dari 'melestarikan hewan eksotis'.

Well, untuk lebih jauhnya tentang tindakan tindakan Chanee dan timnya yang keren ini bisa di cek di http://www.mikebirkhead.com/GoodMorningKalimantan.htm

Dan untuk mengetahui lebih lanjut tentang orangutan bisa di liat di http://www.orangutan.or.id

So, what are you waiting for? Save them right now!

Kamis, 17 November 2011

Iskandar Widjaja :3 (reblogged from afin's)

Jadi, semalem ada acara Art of Violin gitu di Tembi. Resitalnya Iskandar Widjaja. aaaaa aku udah nunggu resital ini dari September! :D
Jam 6 sore Tata kerumahku dulu, janjian mau berangkat bareng. Tapi kudu nunggu ortuku dulu buat nganter. Dan baru berangkat jam setengah 7 lebih. Pas kita otw, Gilang sms dia udah sampek. haha maaf kita ngaret ya Lang :B
Udah blabla kita sampek jam 7.15-an. Gilang cerita "aku udah liat Issi. dia keren banget". Ah envy sekali! Terus ternyata tempat resitalnya tu kecil banget. sama Aula Katamso-nya Tldn lebih gede aula Katamso. Pas ke tempat resitalnya, aku denger suara biola, ternyata itu Issi lagi latian. Dan sumpah baru denger dari jauh aja udah merinding banget. Apalagi liat orangnya langsung :3
Resital baru mulai jam 8 lebih. Dan here he was, a meter away from my seat.
Dan melihat Iskandar Widjaja secara langsung itu, semacam liat Edward Cullen versi lebih sempurna.
Peryama dia masuk itu, dia kayak vampir. Kulitnya putih banget, tinggi, kurus, dan agak merah disekitar mata.
Aku melting se melting meltingnya. aku merinding. aku pengen nangis. aku excited. ada MC mbuka acara, mbacain tata tertib resital blabla. Aku mulai ga sabar. And finally, he played. Ah, akan lebih surga kalau depanku itu anak kecil, bukannya mas-mas tinggi dan kepalanya ga bisa diem -____-
He was totally awesome! Aku ga bisa berenti senyum ngliatin dia. Ah melting :3
Resitalnya selesai jam setengah 10, dan ada signing-nya! Tapi harus beli CDnya seharga 150.000 . Dan crap the crab aku ga bawa uang *nangis di pojokan*. Dan hari ini ada masterclass-nya Issi. Dan aku udah pasti......nggak ikut. Aku mau ngapain disana nanti? Malah jadi anak ilang ntar ._.

(source: Afin's blog)

Rabu, 16 November 2011

surat tak tertuju

jika aku masih hidup sampai detik ini
itu pasti karena kuasa Tuhan
jika aku yang penuh dusta ini mati
itu pasti karena takdir memaksakan

beribu ribu kata telah keluar dari mulutku
mulut yang hina ini
berjuta juta pemikiran telah terbentuk
pemikiran yang meragukanmu

kebimbangan ini
kesuraman ini
kesunyian ini
menusuk sanubari

untuk apa aku hidup
untuk apa aku berjuang
untuk apa aku tersakiti
untuk apa aku terdiam

hidup dalam kesakitan ini
berjuang dalam fana ini
tersakiti dalam kesunyian ini
terdiam dalam kebimbangan ini

aku hilang arah
aku buta iman
aku tuli hati
aku gagu doa

tak dapat merasakan
tak dapat mengerti
apa siapa bagaimana
dunia ini berjalan

Senin, 15 Agustus 2011

STAND UP COMEDY

hey hey hey! Thank God, postingan kali ini bukan postingan galau! Yak, terlihat dari judulnya, gue bakal membahas tentang Stand Up Comedy.

Ada yang udah tau? Gue yakin diantara kalian udah ada yg ngerti apa stand up comedy itu. Stand up comedy adalah hiburan, dimana ada satu orang bermodalkan mic diatas panggung, berusaha untuk menampilkan komedi komedi yang segar dan CERDAS! Nah, kata yg gue capslock itu yang menjadi tingkat kesulitan dari stand up comedy itu, tentunya selain membuat orang ketawa dan ga 'krik krik krik'.

Kalo yang gue tau, orang yang mencoba melucu itu disebut Standing Comedian. nah, gue udah punya standing comedian favorit nih! B) mereka adalah.... *jengjengjeng*
1. Raditya Dika= kalo lo suka baca bukunya, you'll know lah
2. Pandji= joke nya cerdas dan 'ngena' banget
3. Asep Suaji= ekspresinya dan aibnya *digampar asep*
4. Reggy Hasibuan= Lo ntn deh joke nya dia yg bahasa inggris ;)
5. Mo Sidik Zamzami= sumpah, dia bikin ngakak

Btw, bagi yang belom pernah denger stand up comedy, pasti lo mikir kalo ini hal baru di dunia 'perlawakan'. Padahal, sebenarnya, stand up comedy itu udah lama. Bahkan, di Amerika atau di negara barat sana noh, udah ada kontes yang mengambil benang merah stand up comedy. Stand up comedy yang pertama kali gue tonton adalah stand up comedy nya Jim Carrey. Itu gue lupa nonton kapan, tapi yang pasti udah lama! Dan gue inget banget gue ga ngerti Jim carrey ngomong apa! Karena apa? Kendala bahasa... Tapi gue sempat nonton lagi 2 hari yang lalu dan alhamdulillah yah *ala syahrini* udah ngerti laah ;)

Jadi, sebenernya, kalo lo pikir stand up comedy adalah lawakan terbaru, berarti lo KUDET (kurang update)! Karena lo bisa liat di youtube deh, ada video nya Jim Carrey masih mudah stand up comedy disitu. Bayangin ya, JIM CARREY MASIH MUDA! which is long time ago *digebok jim carrey*

Oiya, kalo stand up comedy di luar jarang dari kita yang bisa ngerti, karena pertama, kendala bahasa. kedua, beda topik. Sana topiknya apa, sini topiknya apa. kalo lo mau lebih tau lagi, lo bisa nonton stand up comedy nya indonesia dan seengganya amerika lah ;)

Pada penasaran sama aksi aksi raditya dika, pandji, asep, regy dan standing comedian lainnya? bisa di check ya di standupcomedyindo
itu tadi channel youtube yg ngrekam semua joke mereka. Tapi kalo menurut gue, lebih seru kalo lo nonton live ;)

Rabu, 03 Agustus 2011

UNREQUITED LOVE

HELL TO THE O EVERYBODY!!! postingan ini terlihat lebih galau daripada postingan sebelumnya. Memang, suasana hati saya akhir akhir ini agak ga menentu. Errr, faktor umur kayaknya.. (ababil). okeee, lanjut! kali ini saya akan nge blog ttg UNREQUITED LOVE. hayooo, pada tau ga? pasti tau dong :P kalo ga tau.... GOOGLE TRANSLATE!

moving on, unrequited love. pasti dari kita pernah dong mengalami yg namanya unrequited love. itu sama aja kayak postingan sebelumnya yg berjudul 'ONE-SIDED LOVE'. Bedanya, kalo ini kita benar benar sudah ga punya kesempatan. maksud gue ga punya kesempatan bukannya lo ga punya kesempatan dgn dia di lain hari, hanya pada kondisi sekarang ini, lo ga punya kesempatan. Sedangkan 'ONE SIDED LOVE' itu lo masih punya kesempatan pada kondisi ini tapi lo emg belom berani untuk memberi tahu orang yg lo suka itu. Ngerti ga? kalo ga ngerti di ngerti ngertiin aja yaaak ;) hahaha

Unrequited Love itu bukan lagi hal tabu di dunia kita. Gausah munafik, kita semua pasti pernah ngalamin itu. Tapi, dibalik kejadian 'unrequited love' itu banyak dari kita yang malah menemukan cinta sejati nya. yaa, ini agak sedikit aneh ya, tapi FTV yg sering tayang itu banyak yg bener loh, meskipun ceritanya berkisar ke itu itu aja...

Sama kayak 'ONE SIDED LOVE', gue ga bisa ngasih solusi utk sekarang ini. yang gue bisa bilang itu 'MOVE ON!'. Itu lah yg gue lakuin. Banyak yg bilang move on itu susah, but actually, Moving On isn't that hard. You just need to prepare your heart. Ambil sisi positifnya, dia bukan yg terbaik untukmu. Dan Tuhan pasti memberikan seseorang yg pantas untuk lo. Dan dengan kejadian 'Unrequited Love' ini, lo bakal jadi orang yg lebih kuat, serius deh. Contohnya.... Gue -___-" i don't know i have to proud of this or have to.... FORGET THIS SHIT! hahahaha

Gue mau ngasih 'sajak'. Gue sih ga yakin ya kalo ini sajak, lo anggap aja ini Puisi ke-GALAU-an gue -_- jangan puisi deng, anggep ini curhat gue...

You came into my life in the perfect time,
Brought me a piece of happiness,
Do you know how i was happy when you came?
More than you know,
More than everything made me happy,
But now, you've found your happiness,
Of course i'm happy to know that,
But deep inside my heart? Noone will know
Guess, this is the time, Part of the risk,
I know the risk before,I understand
The Risk of Loving You,
It's not your fault, It's mine,
You didn't ask me to love you,
It was my choice,and i took it,
I never regret for loving you,
I just regret for being your secret admirer,
For not telling you the truth in the past,
And now, this is the end,
The end of my secret love,
Congratulations my brother,
For your happiness, so happy to know,
To know that you're happy,
To know you've found the luckiest girl in the world,
Lucky to have you, Lucky to be your love...